Sekarang hari ke-2 di tahun 2014, itu artinya 363 hari lagi tahun baru.

Kalo ada yang bilang angka 13 adalah angka sial, mungkin ada benarnya. Soalnya, akhir tahun 2013 kemarin nggak ada acara sama sekali, artinya bakal ngerayain tahun baru di rumah. Tanpa kembang api, petasan dan bakar rumah ikan (tapi buat sebagian orang, tahun 2013 adalah tahun yang bagus. Indikasinya: banyak yang menikah di tahun ini, terutama bulan Desember. Sebut saja Martopo, Legimen dan Amanah).


Beruntung, saya punya teman bertipe nggak-bisa-diam-di-rumah. Waktu itu lagi bikin gambar, tiba-tiba terdengar ringtone Hey Jude-nya The Beatles. "Robby calling.." pun terpampang nyata di layar handphone.


Halo..

Kowe enek ngendi?” tanya Robby.

Enek ngomah, ngopo?

Ayo karaoke,” belum sempat saya jawab, terdengar suara bernada provokatif di belakang Robby, “Ayo.. ayo karaoke..

Saya pikir itu Satriya Budiawan, sohibnya Robby. Dan benar saja, ketika saya menanyakan perihal siapa saja yang ikut, salah satunya adalah Segawon (nama beken Satriya).

Sebenarnya, menyanyi bukanlah passion saya. Tetapi, menyambut tahun baru dengan karaoke itu jauh lebih baik dari pada di kamar ditemani pensil, penghapus dan kertas A3.

Setelah ganti baju, saya bergegas berangkat. Saking buru-burunya sampe nggak sempet nyukur bulu hidung.
Sampai di lokasi yang dijanjikan, mereka nggak ada. Pikiran buruk mulai menyeruak. 

"Jangan-jangan salah tempat?"


"Jangan-jangan tadi salah sambung?"


"Jangan-jangan JKT48 bubar?"


Penasaran, saya mencoba menghubungi mereka. Ternyata motor Satriya mogok. Bukan, bukan Suzuki Satria. Maksudnya sepeda motor yang dipakai Satriya mogok lantaran kena banjir.

Setelah melalui beberapa menit yang mendebarkan, akhirnya kita semua bisa bertemu. Rasanya bahagia sekali, seperti keluarga yang terpisah selama belasan tahun, kemudian dipertemukan lagi secara dramatis. Momen ini bertolak belakang dengan keadaan Satriya. Selain motornya mogok, dia nggak pake alas kaki alias nyeker. Usut punya usut, sepatunya basah ketika menerjang ombak jalanan (baca: banjir) tadi. Kasian. #SaveSegawon

Dan entah kenapa setiap kali habis hujan pasti macet.


Biar nggak kelamaan sampai di lokasi, kami mencari jalan alternatif. Ternyata nggak ada. Satu-satunya jalan adalah jalan raya. Sialnya saya nggak pake helm. Beruntung, Robby bawa helm, helmnya Satriya. Sekilas tampak helmnya sudah SNI. SNI jaman prasejarah.

Singkat cerita, kita sampai di Diva Karaoke. Masalah baru timbul, karena sepatu yang basah tadi: masa iya masuk ke tempat karaoke nggak pake alas kaki? Bisa-bisa dikira gembel, trus kena razia satpol PP, hehe. Tapi, mungkin emang harinya Satriya. Bisa-bisanya dia nemu sandal di teras ruko. Agak lusuh sih, tapi nggak apa-apa katanya.

Resolusi 2014, diva karaoke
Fokus

Biar masuk di kolom pencarian google, saya kasih penampakannya Robby:

Resolusi 2014, diva karaoke
ajaibnya Camera360

Karena saya nggak bawa jaket buat nutup muka, orang pertama yang dapet giliran nyanyi adalah Robby. Dia nyanyiin lagunya Kerispatih. Nggak tau kenapa, lagunya Kerispatih sepertinya sudah menjadi lagu wajib karaoke. Coba perhatikan, temen-temen (atau mungkin kamu sendiri) sedang menyanyi, pasti ada lagunya Kerispatih. Mungkin karena yang banyak nyiptain lagu si Badai, makanya lagu-lagunya keren badai.

Dan yang nggak kalah badai adalah duet Segawon dan Any:

Resolusi 2014, diva karaoke
bawain lagunya Andra and the Backbone - Surrender

Menjelang pukul 00.00, kita dikasih terompet. Dengan biadab mereka langsung minta dipotoin:

Resolusi 2014, diva karaoke
jadi tukang poto, nasib


Pukul 00.00 tepat, kami nggak keluar ruangan. Kami tetap nyanyi layaknya tim paduan suara TK Kartini. Kayaknya keramaian petasan dan kembang api di luar sana masih kalah riuh dengan suara kami. Tingkat kebisingan yang dihasilkan diyakini mencapai 120 desibel. Makanya jangan heran kalau suara ini bisa menimbulkan 3 korban jiwa, 15 luka-luka dan 7 diantaranya hilang.

Di sela-sela lagu, diselipin poto bareng:

Resolusi 2014, diva karaoke
Niup terompetnya dari C#

Pulangnya masih macet, kehujanan dan tersesat. Iya tersesat, karena harus nyari jalan muter untuk menghindari macet yang sangat tidak bensiniawi itu. GPS pun tak banyak membantu. Entah karena GPS nya jelek atau orang-orangnya yang titik-titik.

Setelah bertanya kesana (nggak pake kemari, karena cuma nanya sekali) sama orang, akhirnya dapet titik terang dimana keberadaan jalan menuju rumah. Kami pun bergegas pulang menerjang hujan, membelah karang #halah.

Sampai di rumah, semua kompak bilang, "Home Sweet Home". (Kayaknya bohong).

Setelah ganti baju, makan, kami memutuskan untuk tidur saja. Bangun pukul 10 pagi. Sungguh cerita menakjubkan yang kelak bisa diceritakan ke anak cucu.

Pas nulis cerita ini, saya jadi kepikiran beberapa resolusi yang bakal dicapai di tahun 2014 ini. Salah satunya adalah potong rambut. Kebetulan ada temen buka usaha cukur online, hasilnya kayak gini: 

Resolusi 2014, diva karaoke
Adnan 'Pranoto' Januzaj 

Apa resolusi kamu? Bisa kamu tulis di kolom komentar. [Kayak ada yang baca aja].

2 komentar

Jadi aktor utamanya #AKUMENEH !!!! haduuuhhh...., #tepokjidat
marai pengen nduwe web dewe aku, latihan nulis... :)

Haha.. selamat!
Mari belajar :)

Pilih 'Anonymous' atau 'Name/URL' di 'Comment as' jika profil untuk berkomentar tidak ada. Terima kasih telah meninggalkan komentar.
EmoticonEmoticon