Pesona Pantai Baron - Jogjakarta

*Disarankan ketika membaca tulisan ini sambil mendengarkan lagu dari Pas Band yang berjudul Pantai Abis*

Sebagian orang beranggapan jika pantai mempunyai keistimewaan tersendiri. Istimewa karena di sana tidak ada pohon cemara layaknya di pegunungan. Ini semakin menegaskan jika pantai dan pegunungan itu berbeda. Memang beda, dan entah kenapa saya membuat perbandingan yang jelas-jelas tidak bisa dibandingkan ini.

Ngomongin soal pantai, beberapa waktu lalu saya dan beberapa teman pergi ke pantai. Bukan beberapa orang ding, tapi banyak. Kami berkunjung ke Pantai Baron yang berada di Jogjakarta.

Waktu itu sedang libur lebaran Idul Fitri. Karena rata-rata adalah anak rantau, waktu berkumpul kami di kampung sangat lah terbatas. Tidak semua teman saya mudik, masih ada beberapa teman yang tidak pulang kampung. Mereka sempat bilang, katanya ingin sekali pulang ke kampung halaman, tapi lupa halaman berapa. Hehe, garing.

Dan saat ini adalah salah satu momen langka itu. Oleh karenanya, tercetuslah ide untuk pergi bersama-sama ke suatu tempat. Tanpa banyak cincong, kami memutuskan untuk pergi ke pantai.

Perjalanan sempat diwarnai insiden: kopling mobil tidak bisa bekerja maksimal. Alhasil perjalanan ditunda beberapa saat untuk memastikan kondisi mobil. Ternyata masih bisa dilanjutkan. Semua berteriak girang. Saking senangnya, salah satu ada yang kencing sambil kayang.

Belakangan ketahuan penyebabnya. Oli yang dipakai untuk minyak kopling ternyata oli gardan. Terang aja ngadat, minyak untuk hidrolik punya spesifikasi sendiri-sendiri. Orang Teknik Sipil pasti paham betul permasalahan ini. *lho?

Sampai di lokasi udah siang, dan ternyata pengunjungnya ramai sekali. Ramai sekali saudara-saudara sekalian. Karena perjalanannya cukup melelahkan (sempat terjebak macet sekitar 30 menit), kami memutuskan untuk istirahat beberapa saat sekedar melepas lelah. Beberapa orang teman membeli air mineral untuk melepas dahaga.

Hal pertama yang kami cari adalah kaca mata. Entah siapa yang pertama kali mendeklarasikan jika berkaca mata itu cool. Saya sih ngelihatnya malah kayak tukang las lagi liburan. Hehe nggak, becanda. 

Abis beli kaca mata, kami melanjutkan perjalanan ke arah pantai, jalan kaki. Di tengah perjalanan, kami disambut ini:


Larangan di pantai Baron
Dilarang!!! (pakai tiga tanda seru)

Sepertinya, kata-kata “Aturan Diciptakan Untuk Dilanggar” itu benar adanya. Beberapa langkah dari situ, kami temui tempat seperti ini:


Kamar ganti pantai baron

Satu sisi mereka membuat larangan, di sisi lain mereka menyediakan fasilitas untuk mereka yang habis berenang. Saya jadi curiga kalau ini adalah konspirasi para pengelola pantai.

Saya juga sempat mengabadikan beberapa momen yang terjadi dengan ponsel lawas produksi China saya. Berikut foto yang berhasil saya dapatkan:

Edi JPG di pantai Baron
entah apa maksud dari rekan saya ini

Robi Susanto di pantai Baron
serius, ini bukan iklan

Salah satu view dari sudut yang berbeda:

Pantai Baron Ramai
Miami KW 13

Foto terakhir sebelum pulang:

Bertamasya ke pantai Baron
ada yang ngupil

Kalau mau view yang bagus, kita bisa naik ke atas bukit. Dan lagi-lagi karena (mungkin) konspirasi pengelola, kami harus mengeluarkan uang. Iya, mengeluarkan uang. Kita diwajibkan membayar uang sebanyak.. seribu rupiah per orang.

Tetapi, semua hal tadi akan terbayar lunas ketika sudah sampai di atas bukit. Pemandangan pantainya kurang lebih seperti ini:

Model di pantai Baron
diperankan oleh model

Jika modelnya diabaikan, akan tampak seperti ini:

Pantai Baron Jogjakarta

Kesimpulan: Pantai Baron yang terletak di Jogjakarta ini memiliki pemandangan yang sungguh indah, terbukti dari jumlah pengunjung yang luar biasa banyak. Tingkat keramaian seperti ini cukup mengganggu menurut saya. Tetapi, keramaian ini hanya terjadi ketika libur lebaran saja.

Tertarik ke Pantai Baron??