Cerpenbung: Mas, Jangan! #2

Ini adalah lanjutan dari "Mas, Jangan!" #1. Berikut adalah bagian akhir cerita tersebut. Selengkapnya bisa dibaca di sini.
Nggak lama kemudian, lampu penerangan dimatiin pertanda film akan dimulai. Ngelihat trailer-nya aja mereka exited banget, karena mereka berdua sama-sama suka film action. Pas film dimulai, suasana hening sejenak, semua pandangan mulai mengarah ke layar bioskop, kecuali Dimas. Sampe akhirnya terjadi komunikasi satu arah dari Imah..
  “Mas.. jangan..”
  “Jangan Mas..”
  “Maaasss....”
“Kenapa, Mah?” Dimas mengerlingkan jidatnya.

“Aku nggak suka ya, kamu ngebajak film kayak gini!” Imah mulai marah.

“Ya, aku pikir ini kan filmnya bagus, udah bawa handycam juga. Sayang kan kalo nggak dilanjutin?” Dimas mulai panik.

“Pokoknya aku nggak suka sama semua jenis pembajakan!” Seru Imah.

Dimas pun memasukkaan kembali handycam-nya ke dalam tas, mengurungkan niat pembajakan ini. Setelah sama-sama terdiam beberapa saat, Imah mulai membuka pembicaraan, “Kalo emang niat ngebajak, mending download dari Ganool aja. Kebetulan aku punya CD blank banyak banget, nggak dipake. Ntar kita copy, trus kita jual. Hasilnya kita bagi dua deh..”

LAH...

Akhirnya mereka pun menyudahi perdebatan paling nggak penting ini dengan mengarahkan kembali pandangan masing-masing ke layar bioskop, sambil sesekali makan popcorn yang tadi dibeli sama Imah.

Durasi filmnya agak panjang. Meski demikian, Dimas masih sempet mencatat point-point penting di film itu. Dia berencana membuat review-nya di blog pribadinya.

Setelah film selesai, Dimas dan Imah keluar dari bioskop menuju restoran cepat saji. Mereka makan siang. Kali ini yang bayarin Dimas.

Abis makan siang, mereka berencana jalan-jalan di mall itu. Jalan-jalan aja, nggak ngapa-ngapain. Kebetulan di lantai tiga belas ada wahana (wahana?) ice skating. Mereka tertarik untuk melihatnya.

Mereka berdua naik lift. Di dalam lift, Dimas bingung mencet tombol nomor berapa, soalnya nggak ada tombol angka 13 di situ.

“Mah..” Dimas ngasih kode Imah dengan nunjuk-nunjuk ke arah tombol lift.

“Kenapa Mas?” Imah nanya, “Oh.. 12B Dimaass..”

Dimas mencet tombol sambil ngelap keringat. Dalam hati bilang, “Buset, ini mall tinggi amat. Udah kayak apartemen aja”.

Lokasinya bukan di Indonesia kok. Jadi nggak usah nebak-nebak di mall mana mereka jalan hehe.

Di dalam lift Dimas terdiam, sepertinya melamun. Karena takut kenapa-kenapa, Imah nanyain hal ini ke Dimas, “Mas, kamu kenapa?”

“Kepikiran sesuatu, Mah.” Jawab Dimas.

“Kepikiran apa? Cerita doong..” Imah nanya lagi sambil mengusap-usap punggung Dimas.

“Kepikiran sama sahabat aku, Mah. Umur kita agak jauh, dia udah aku anggap kakak sendiri, namanya Agus Septian. Sekarang jadi tenaga kerja di Yordania”.

“Trus?” Imah lanjut bertanya.

Dimas menoleh ke arah Imah, “Dia udah nonton Titanic 3D belom, ya?”

Seketika itu, Imah berhenti mengusap punggung Dimas, tanpa menanggapi pertanyaan itu.

Pintu lift terbuka.

Mereka pun melanjutkan kegiatan jalan-jalan ini. Arena ice skating didominasi sama anak-anak kecil. Dimas dan Imah yang emang nggak niat main pun, jadi tambah nggak niat lagi untuk main. Jadinya mereka nonton aja dari atas, sambil ngobrol ngalor-ngidul.

TAMAT

Duh.. endingnya kok antiklimaks begini sih..

Ngomong-ngomong, sahabatnya si Dimas -Agus Septian- lahir di bulan apa ya?