Cerpenbung: Mas, Jangan! #1

Pagi itu, ayam berkokok terdengar lebih kencang dari biasanya. Dimas yang biasanya harus beberapa kali menunda alarm, kini terbangun sejak alarm pertama berbunyi. Dimas memilih bunyi alarm dengan suara ayam bukan tanpa alasan. Kemarin sempat mencoba menggunakan suara kebo, tapi ternyata kurang efektif.

Setelah menggeliatkan badan ke kiri 3 kali dan ke kanan 29 kali, Dimas memaksa membuka matanya lebar-lebar, walaupun akhirnya gagal. Dengan mata sipit mirip orang belekan, Dimas bergegas ke kamar mandi. Sekedar untuk mencuci muka. 

Dimas adalah murid yang disegani di sekolah. Kebetulan dia pernah juara 1 karate tingkat propinsi. Keinginan terbesar dalam hidupnya adalah menjadi akuntan, makanya dia sekolah di SMK dengan jurusan akuntansi. Mungkin ini salah satu faktor kenapa dia begitu disegani, mengingat kebanyakan murid di sekolahnya adalah kaum hawa.

Ini adalah hari yang istimewa untuk Dimas. Dia berencana untuk bertemu sama Imah –gebetan dari twitter.

‘Mah, hari ini kita jadi ketemu kan?’ Isi mention Dimas buat Imah.

Karena lama cukup lama tidak dibalas, akhirnya Dimas memutuskan untuk menyalakan laptop sambil menunggu reply dari Imah, mendengarkan lagu yang kemarin baru di-download.

Sekedar informasi, Dimas ini suka sekali dengan lagu-lagu rock. Band yang disukainya adalah Avenged Sevenfold (A7X), kebetulan belom lama ini mereka merilis album baru. Jika menghadapi hari bingung-mau-ngapain-nih, biasanya Dimas memutar lagu A7X kenceng-kenceng di kamar.

Sedang asik mendengarkan lagu, tiba-tiba HP Dimas berbunyi menandakan ada mention di twitter. Ternyata mention dari Imah, "Jadi ketemuan nggak? Aku udah di halte nih."

Ternyata mereka sepakat bertemu di halte bus, aduhh... Ini pertama kalinya mereka bertemu.

Dimas pun bergegas, memakai jaket, sepatu dan mengambil kunci sepeda motor CB-nya. Dimas memang suka dengan motor klasik. Alasannya simpel, motor baru harganya mahal. Seperti biasa, sebelum memulai hari dengan motor kesayangannya, Dimas selalu manasin CB-nya itu di depan rumah. 

Dengan spion mungil, Dimas memastikan apakah bajunya sudah rapi atau masih berantakan, bulu hidungnya offside apa tidak, rambutnya sudah simetris atau belum. 


Sampai di situ, Dimas menyadari sesuatu: helmnya lupa tidak dibawa.

Dimas kembali lagi ke kamar untuk mengambil helm, sekalian mematikan laptop yang ternyata tadi lupa tidak dimatikan.

***

"Emm.. Imah, ya?" Dimas nanya setengah nebak sama cewek yang berdiri di depan telpon umum sebelah halte.

"Eh, iya.. Kamu Dimas?" Jawab Imah. Sekilas tampak gugup.

Mereka pun bersalaman.

"Yuk..." Dimas mengajak Imah naik motor, menuju ke tempat yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.

"Rumah kamu deket, ya, Mas? Kok cepet banget nyampe sini?" Imah mengawali perbincangan di atas motor.

"Lumayan sih, cuma beberapa pengkolan ojek aja kok dari sini. Oh iya, manggilnya biasa aja, nggak usah pake mas, hehehe." jawab Dimas sambil senyum-senyum.

"Iih.. pede banget sih? Siapa juga yang manggil kamu pake Mas. Maksud aku Mas itu Dimas.. hahaha." Imah ngakak tidak ketulungan.

Dimas cuma bisa nyengir sambil garuk-garuk helm. Mereka pun melanjutkan perjalanan tanpa ngobrol lagi.

Karena sama-sama hobi nonton, mereka memutuskan untuk menonton film. Film Titanic 3D menjadi pilihan pertama mereka. Tetapi, melihat poster sekitar bioskop, mereka merasa ada yang janggal, seperti ada yang salah. 

'Kok poster Titanic nggak ada, ya?' pikiran mereka kompak.


Mereka masih mencari-cari poster, melihat sekeliling, sampai akhirnya mata mereka saling bertemu. 
Sambil menahan tawa, mereka kompak bilang, "Ya ampyuun.. sekarang kan udah 2014..."

Dari situ masing-masing dari mereka sadar, terakhir kali nonton di bioskop adalah sekitar 2 tahun silam..

Berhubung Titanic sudah tidak ada, mereka melakukan ratas alias rapat terbatas untuk menentukan film apa yang akan  mereka tonton.

Tidak berapa lama, mereka sudah mengantri untuk membeli tiket.


Di depan mbak-mbak penjaga tiket ketika mau membayar, tiba-tiba perut Dimas mules, "Mah, aku ke toilet dulu ya, mules nih.

"Ya udah sana." jawab Imah. Mereka berencana untuk menonton film Street Society. Film balap-balap gitu.

Karena Dimas tidak kunjung dateang, akhirnya Imah yang membayar tiketnya. 
Ternyata di dalam bioskop penontonnya tidak terlalu penuh. Kebetulan Dimas dan Imah mendapatkan kursi paling belakang: A1 & A2.


bioskop, kencan pertama

Tidak lama kemudian, lampu penerangan dimatikan pertanda film akan dimulai. Melihat trailer-nya saja mereka exited sekali, karena mereka berdua sama-sama suka dengan film ber-genre action. Ketika film akan dimulai, suasana hening sejenak, semua pandangan mulai mengarah ke layar bioskop, kecuali Dimas. Sampai akhirnya terjadi komunikasi satu arah dari Imah..

   “Mas.. jangan..

   “Jangan Mas..

   “Maaasss...

Bersambung ke Dimas - Bagian 2