Inspirasi Menulis

Inspirasi menulis bisa datang dari mana saja. Mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita, kejadian-kejadian yang lagi happening, sampai isu sosial yang sedang berhembus (yang ini agak berat). Bahkan, bingung-mau-nulis-apa ini juga bisa dijadikan sebagai bahan tulisan.

Di sisi lain, tidak jarang ide itu muncul di saat yang tidak tepat. Misalnya, ide itu muncul ketika lagi di jalan naik motor. Gue sering banget bepergian pake motor, karena belum bisa nyetir mobil. Tapi alasan sesungguhnya karena emang nggak punya mobil, sih. Dan tidak jarang pula gue mengalami hal-hal tadi. Kalo udah begini, biasanya gue nyatet ide-ide tadi di Notes HP pas berhenti di lampu merah.

Namun, seringkali catatan tadi hanya menjadi kumpulan ide yang tertumpuk karena malas. Atau kalau level malasnya berkurang, catatan ide tadi mulai ditulis, namun masih berbentuk draft. Alhasil, dalam satu bulan cuma bisa bikin dua postingan. Atau yang lebih parah, bikin satu postingan dalam dua bulan. Padahal gue tau, blogger yang baik itu adalah blogger yang konsisten dalam membuat postingan, dan tentu saja dengan konten yang berkualitas.

Gue pengen menjadi blogger yang baik.

Berangkat dari permasalahan tersebut, mulai hari ini gue mencoba satu langkah kecil untuk melawan rasa malas gue sendiri, yaitu dengan mulai mengembangkan ide yang gue dapet secepatnya. Yang gue tulis adalah cerita, karena memang dari awal konsep blog ini adalah blog personal.
***

Beberapa waktu lalu, tepatnya hari Jumat, seperti biasa gue shalat Jum’at ke masjid terdekat. Bukan, namanya bukan masjid terdekat. Maksud gue masjid yang paling dekat dengan rumah. Nama masjidnya adalah Masjid Al-Huzna. 

Gue mandi agak siang, karena kebetulan bangunnya agak kesiangan juga, jam 11.50. Setelah mandi, ganti baju dan pake minyak wangi yang sepuluh ribuan itu, gue mulai bergegas berangkat, karena adzan udah mulai berkumandang. Agak telat nih..

Seperti biasa, gue pake baju putih favorit dikombinasikan dengan sandal berwarna hitam. 


Sampai di sini, gue udah ngerasa fashionable banget.

Ngomongin soal sandal hitam, sandal yang gue pakai ini mempunyai sejarah yang agak panjang. Gue dulu beli sandal di distro-distro gitu di daerah Tangerang. Gue sempet pake sandal itu beberapa bulan waktu masih kost di Tangerang. Karena suatu hal, gue pindah ke Bekasi. Sandal ini pun gue ikut sertakan dalam kegiatan bermigrasi ini.

Di sana lah sejarah baru sandal ini tercipta. Kisah perjalanan sandal ini sempat diabadikan menjadi judul sinetron salah satu TV swasta, “Sandal yang Tertukar”. 

Iya, sandal gue tertukar, atau lebih tepatnya ditukar. Namanya menukar sandal, pasti si Tersangka berniat mencari yang lebih bagus. Dan bener aja, sandal gue yang bernama Eiger itu, mendadak berevolusi menjadi Aigar.

Nah, sandal jadi-jadian ini lah yang gue pake ke masjid. Biar pun ‘nggak kayak dulu lagi’, gue masih memperlakukan hal yang sama seperti sandal-sandal sebelumnya. Si Aigar masih dapet kasih sayang yang sama, sama kayak kasih sayang yang gue kasih ke Eiger dulu..

Karena agak telat, di lantai satu udah dipenuhi para jamaah yang dateng duluan. Terpaksa gue naik ke lantai dua, termasuk sandal gue, si Aigar. Di lantai atas berisik banget, karena banyak anak-anak. Namanya juga anak-anak, bukannya dengerin Kutbah Jumat, malah pada main. Gue sempet perhatiin beberapa saat sebelum kutbah dimulai. Jenis permainannya macem-macem, ada yang main tebak-tebakan nama buah, ada yang kejar-kejaran, bahkan ada yang main petak umpet.

Kutbah dimulai, dan gue masih berusaha konsentrasi untuk mendengarkan dengan seksama. Durasi konsentrasi gue diperkirakan mencapai dua puluh menit lebih tiga puluh sembilan detik. Cukup berat, mengingat kapasitas otak di kepala gue yang ganteng ini nggak gede-gede amat.

Nggak lama kemudian shalat dimulai. Dan seperti biasa, gue mengakhirinya dengan doa-doa keselamatan dan kesejahteraan... serta enteng jodoh.

Abis shalat, gue bergegas pulang. Niat serupa juga diamini oleh semua jamaah lantai satu serta lantai dua, termasuk anak-anak yang tadi kejar-kejaran. Karena tangga turunnya sempit, jalannya antri. Gue ngalah dulu, nungguin biar pada turun duluan. 

Setelah agak sepi, gue nyari-nyari si Aigar. “Perasaan tadi gue taroh di sini, kok nggak ada ya?” Tanya gue dalem ati sambil garuk-garuk kepala.

Agak putus asa, akhirnya gue mutusin untuk nunggu sampe jamaah terakhir pulang. Dan sandal yang tersisa hanyalah ini:


Inspirasi Menulis, sandal inspirasi, sandal eiger
Pak, lapar pak.

Dalem hati pengen misuh-misuh. Tapi, karena di sini di tempat ibadah, gue buru-buru mengurungkan niat tidak terpuji itu. Dengan langkah lunglai, gue meninggalkan masjid, meninggalkan semua kenangan indah dengan Aigar.
Selamat tinggal Aigar, akan ku ingat selalu kebersamaan kita. Baik-baik ya di sana.. Jangan nakal, jangan manja. Meskipun kamu tau, kamu akan diinjak-injak setiap hari, bersikap manislah selayaknya sandal jepit yang berwarna hitam...