Cerpen: Pesan dari Rini

Pesan Dari Rini, Cerpen, renggonesia

Sepulang sekolah, aku langsung menuju ke kamar tidur. Kamar yang sempit dan sederhana. Meski demikian, masih terasa nyaman karena barang-barang di dalamnya tertata dengan rapi.
Sejenak ku pandangi jam weker berwarna merah yang terletak persis di sebelah kipas angin bermerk Simbadda itu. Jam yang sudah tidak berfungsi ini adalah pemberian Rini, teman sekolah yang sudah dua bulan lebih menjadi kekasihku.

Rini adalah gadis keturunan Jawa. Tidak terlalu cantik, namun berparas manis. Periang pula. Rini adalah anak yang humoris, tidak jarang aku tertawa setelah membaca pesan darinya. Namun sudah dua hari ini dia tidak mengirimkan pesan sama sekali. Aku rindu dengan momen ‘Rini is typing message..’ di handphone-ku.

Aku merenung, memikirkan perubahan yang terjadi pada Rini. Aku mulai mengingat-ingat apa yang telah aku perbuat kepadanya hingga dia bersikap 'dingin' seperti ini.

“Dimaas.. makan siangnya udah siap, udah ibu siapin di meja makan,” teriakan ibu membuyarkan lamunanku.

“Iya buu, sebentar..”

Ibu tau betul makanan kesukaanku, selain ikan asin aku juga suka sekali makan sayuran hijau.

“Ibu nggak makan sekalian?” Tanyaku ketika akan memulai makan.

“Ibu masih kenyang, Nak. Dimas makan duluan aja.”

“Pasti udah laper kan? Apalagi ibu masak ikan asin sama sayur kangkung.” Lanjutnya.

“Hehe.. iya bu. Dimas makan dulu ya, Bu..”

“Mau disuapin nggak?”

“Nggak usah bu, Dimas kan udah gede.”

“Ya sudah kalau gitu, ibu mau nyuci dulu.”

Aku makan dengan lahap, karena kebetulan tadi ada pelajaran olahraga di sekolah. Sempet berantem juga, sih.

Selesai makan, aku balik lagi ke kamar, sekedar untuk memastikan HP produksi China bermerk Cross yang aku charge itu ada pesan masuk dari Rini atau tidak. Ternyata tidak ada. Yang terlihat hanyalah foto Rini dengan boneka panda super besar yang aku jadikan wallpaper. Ah, ingin sekali rasanya ku memeluk boneka itu.

Tiba-tiba terdengar teriakan Budi dari depan rumah, “Diimaas, main yuukk..”

“Iya Bud,” sahutku. Aku memutuskan untuk ikut main bola dengan Budi, mungkin dengan ini aku bisa melupakan sejenak permasalahan pelik ini.

***

'Theeeetttttt...' 

Bel tanda istirahat sekolah berbunyi, semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Aku menuju ke lapangan basket. Bukan untuk main basket, tapi hanya untuk mencari ketenangan. Di pinggir lapangan ada pohon yang besar sekali, di situ aku berteduh, sambil melamun memikirkan Rini. Sial, masih saja kepikiran sama Rini.

Sedang asik melamun, datanglah si Budi, sahabatku yang tempo hari mengajakku bermain bola.

“Ngalamun mulu lu, kenapa Mas?” Budi membuka percakapan.

“Aku rapopo kok,” elakku.

“Ah bohong banget, kelihatan dari muka lu. Nggak biasanya kayak gini.

“Muka gua kenapa?” aku mengerlingkan jidat sambil menoleh ke Budi.

“Muka lu jelek banget hahahaha,”

“Sialan lu.” Gerutu ku sambil meninju lengan Budi.

“Hubungin lu sama Rini baik-baik aja kan?”

“Itu dia Bud, udah tiga hari ini dia nggak ngasih kabar.”

“Lu nggak coba telpon?”

“Udah, lima-limanya nggak aktif!”

Lagi asik cerita sama Budi, dari kejauhan terlihat sosok yang sangat aku kenal. Iya, dia adalah Rini, kekasihku yang sudah tiga hari (yang serasa tiga abad) nggak ngasih kabar. Rini bersama dengan om-om berjalan menuju ke ruang kepala sekolah.

Hah??? Rini jalan sama om-om?

Pikiranku mulai kacau, aku berusaha menjauhkan pikiran buruk yang mulai timbul, berusaha berpikir positif atas apa yang ku lihat dengan mata di kepalaku yang ganteng ini. 'Mungkin om-om itu tadi adalah ayahnya,' aku berusaha meyakinkan diri.

Aku tidak mau tergesa-gesa dalam bertindak. Lebih baik aku tunggu dulu sampai mereka keluar, baru menghampiri Rini dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Sepuluh menit - lima belas menit berlalu, tapi mereka tidak kunjung keluar. Hingga bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi, sekaligus mengakhiri penantianku di bawah pohon rindang yang tak berbuah ini.

Di dalam kelas, aku sama sekali tidak konsentrasi dengan pelajaran. Masih kepikiran Rini, Rini, Rini dan Bu Rini. Bu Rini adalah wali kelas yang kebetulan mengajar saat ini.

'Titit..titit..' 

HP-ku berbunyi tanda sms masuk. Ternyata sms dari Rini. ‘Tumben Rini sms,’ pikirku. Biasanya kami bertukar pesan via Whatsapp atau BBM.

Sms-nya cukup membuatku terhenyak. Kurang lebih isi sms-nya seperti ini:
“Dimas, maaf ya tiga hari ini aku nggak ngasih kabar ke kamu. Papa tau kalau kita pacaran, waktu itu beliau nggak sengaja baca BBM dari kamu. Aku nggak boleh pegang HP lagi sekarang, nggak boleh pacaran dulu. Masalahnya bukan karena kamu yang jadi pacarku, tapi papa pengen aku konsentrasi ke ujian bulan depan, biar dapet nilai bagus trus bisa masuk ke SMP favorit pilihan papa, Dim.”

“Kata-kata papa tentang aku harus jadi juara umum di SD Mentari 1 ini selalu terngiang-ngiang di pikiranku. Maaf, mungkin ini memang yang terbaik buat kita. Oh iya, sms ini jangan dibalas ya. Ini aku pinjam HP-nya Imah, mantan kamu sekaligus sahabatku itu.”
Selesai baca sms itu, aku jadi bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah aku terlalu banyak membaca majalah remaja yang sering dibeli kak Andre itu, sehingga aku sekarang sudah merasa akil baligh? Apakah anak SD tidak boleh membaca majalah yang sering dibaca anak kuliah semester belasan?

Ah, entahlah. Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab dengan sendirinya.