Flash Fiction: Balada Minggu Pagi

Flash Fiction, balada minggu pagi

Google

“Dimas, kita putus.” ancam Rini dari ujung telepon.

“Okee..” aku jawab santai, karena ini bukan ancaman pertama darinya.

“Aku serius Dimas! Aku nggak becanda!”

“Iya, putus ya putus aja sih..”

*tutt..tutt..tutt...* Call Ended

Tumben, biasanya ancaman
Rini tak seserius ini,
’ pikirku.

Minggu pagi ini ku putuskan untuk tetap di rumah. Rasanya sudah lama sekali tidak menyaksikan film kartun.

Kebetulan stasiun TV berlambang ikan sapu-sapu ini sedang memutar serial Dragon Ball, salah satu anime favorit sejak kecil. Aku pun antusias menyaksikannya.

Ku seruput kopi hitam berlogo kapal seharga seribu rupiah per
sachet yang aku beli satu renteng di warung sebelah rumah. Di luar, sesekali terlihat seseorang yang berjalan memikul dua benda berbentuk kotak berwarna hitam sambil teriak dengan aksen khasnya, ''sol sepakuk..''

Ah, minggu pagiku tak pernah seindah ini.

Aku sangat menikmati setiap adegan dari Sun Goku dan Bejita, hingga  melupakan satu hal: RINI
. Aku memutuskan untuk menelponnya.

*tuuuuut*

“Iya.. hiks..” melalui headset ponsel produksi China ini, Rini terdengar mengisak.

“Kamu serius minta putus?” aku mulai panik.

“Kamu kira aku becanda?!” jawab Rini tegas.

“Kenapa? Coba jelasin dulu..”

“Masih harus dijelasin juga?”

“Iya, tolong jelasin.” bujukku.

“Oke, yang pertama aku udah bosen ngantriin tiket setiap kali kita nonton. Kedua, kamu nggak pernah sekalipun bayarin pas kita makan. Kamu tuh ngebosenin tau nggak??”

“Hoo aku ngebosenin? Ya udah, mulai sekarang aku ngeboselasa, deh.” jawabku cengengesan.

“Ih, nyebelin banget sih!!” emosi Rini mulai tersulut.

“Jadi aku harus nyebelout?”

*tutt..tutt..tutt...*