'Dimas, lu bisa ke kostan gua nggak, sekarang?' tanya Rizky via SMS.

'Bisa, kenapa?' balasku.

'Kipas angin gua rusak nih, benerin dong..'

'Oke,' aku setuju karena memang hari Minggu ini tidak ada kegiatan.

Biarpun kuliah di bidang Ekonomi, aku tau banyak tentang elektronik. Makanya orang-orang sekitar sering meminta bantuanku untuk memperbaiki peralatan elektroniknya, termasuk orang yang tadi, si Rizky. Rizky adalah sahabatku sejak kuliah dari semester satu sampai semester sembilan ini.

Aku bergegas menuju kost Rizky, jalan kaki, karena jaraknya cukup dekat. Selain untuk menggerakkan badan, aku agak khawatir membawa sepeda motor ke tempat Rizky. Konon katanya di sana banyak sekali maling motor yang tidak motoriawi. Sayang banget kalau sepeda motor yang tinggal tujuh belas kali lagi angsuran lunas itu sampai hilang. Lagian, ini kan yang kreditin ortu.

Tidak sampai lima belas menit, aku sudah sampai di depan pagar tempat kost Rizky.

'Ting..tong...' suara bel kostan Rizky yang kupencet.

Tidak berapa lama, Rizky keluar dengan benda kecil yang terbuat dari logam di genggamannya. Iya, itu adalah kunci pintu pagar.

“Tunggu bentar ya, gua ke warung sebelah dulu.” Kata Rizky setelah berhasil membuka pintu pagar. “Lu mau minum apa?” lanjutnya.

“Apa aja, Mijon juga boleh.” jawabku.

Kamar kost Rizky tidak terlalu besar, kecil malah. Panas lagi. Makanya tidak heran kalau kipas anginnya mati dia jadi panik tujuh keliling.

“Nitip charge HP dong, sekarat nih,” pintaku ketika sampai di dalam kost Rizky.

“Boleh, sini HP lu.” Jawabnya. “Hahahaha.. masih ada aja fotonya Pina, dipakai wallpaper lagi.”

Kencan Asyik Bareng Irvina Lioni

Dalam hati berkata, ‘Sialan, gua lupa ganti wallpapernya. Tau gitu tadi gua matiin dulu HP-nya.’

“Ya gitu,” jawabku sambil nyengir.

Meskipun bersahabat cukup lama dengan Rizky, aku tidak pernah bercerita tentang Pina. Teman kuliah beda jurusan bernama lengkap Irvina Lioni Yuniasari yang dahulu pernah aku sukai. Meskipun sempat dekat dengannya, kami terpaksa menjauh, karena dia lulus lebih dulu dan memutuskan untuk bekerja di Singapura. Dan yang paling aku sesali adalah aku tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku kepadanya.

Entah dari mana Rizky tau tentang ini.


“Gila ya, diam-diam lu masih suka sama dia?” tanya Rizky.

“Mana kipas angin lu yang rusak?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Itu, bentar gua ambilin.” Rizky bergegas.

Dan dengan mudahnya aku berhasil mengalihkan pembicaraan.


Setelah cek sana dan cek sini, kipas angin setengah butut ini pun berhasil kuperbaiki. Kamar Rizky pun kembali sejuk seperti sediakala. 

“Lu masih suka kontak-kontak sama Pina?” Rizky masih penasaran.

“Masih, gua sering mention dia di twitter, kok.” Kali ini aku tidak bisa menghindari pertanyaan Rizky.

“Dibales?”

“Kagak.” jawabku sambil meneguk sebotol Mijon rasa Durian Afrika itu.

“Dia sekarang di rumah lho.”

‘Bhurpftt..’ aku tersedak. “Pina maksud lu?” aku menoleh ke Rizky.

“Iya, dia itu temennya temen gua. Temen gua kemarin cerita kalo si Pina gebetan lu dulu itu udah pulang. Jangan tanya pulang berapa lama ya, gua nggak tau.”

“Di Jakarta ngapain dia?” tanyaku.

“Kata temen gua lagi nih, dia lagi les musik di daerah Green Garden.”

Aku manggut-manggut, dalam hati bilang, ‘pantesan waktu itu kan Pina pernah nge-twit pengen jadi Pianis.’

“Temen lu punya PIN BBM-nya Pina nggak? Mintain dong, ntar gua traktir Bakso Wonogiri sepuas lo.”

“Bener?”

“Suer.” Aku jawab dengan dua jari membentuk simbol ‘peace’


Beberapa hari kemudian, aku berhasil mendapatkan PIN BBM Pina, dari temannya teman Rizky tentunya. Dan yang paling mencengangkan adalah dia sempat beberapa kali bilang kangen. 

Antara percaya dan percaya banget.

Setelah cukup intens berkomunikasi dengan Pina, aku mulai yakin kalau perasaan ini sama dengan apa yang dirasakannya.

--


“Hah?? Mau nembak Pina? Lu yakin?” mata Rizky terbelalak setelah aku mengungkapkan niat mulia ini ketika kami nongkrong di salah satu cafe.

“Yakin.” Ucapku mantap.

“Ya gua tau dia orangnya pemilih banget. Tapi buat gua, kalau cinta ya cinta aja. Nggak perlu banyak alasan. Cinta itu sederhana kok, sesederhana AKU CINTA KAMU. Lu pernah nonton Cinta Brontosaurus kan? Gua belajar dari Edgar nih.” lanjutku.

“Trus gimana?” Rizky nanya.

“Gua bingung, gimana ngungkapin perasaan gua ke dia.”

“2007 banget lu, ngungkapin perasaan ke cewek aja bingung. Sini gua bisikin.” 

Dan Rizky pun berbisik, berbagi tips bagaimana mengungkapkan perasaan ke seorang wanita. Dari kejauhan, kami tampak seperti sepasang homo yang sedang memadu kasih.

--


Seperti yang disarankan oleh Rizky, aku mengajak Pina untuk senam pagi di hari libur ini ke Monas. Sekalian nyobain sepeda gandeng yang makenya berdua itu. Soalnya, selama 23 tahun hidup di muka bumi ini, Pina belum pernah coba sepeda ini. Alhasil, aku lah pria beruntung nun tampan yang pertama kali bersepeda bareng Pina keliling Monas.

Muterin Monas tidaklah lama, karena kami sama-sama bersemangat. Terasa sekali keringat mengucur deras.

Lelah dan haus mulai menghampiri, kami pun memutuskan untuk berhenti untuk membeli Akua.

"Bang, akua dua dong," sambil ngasih uang sepuluh ribuan.

"Cocok nggak bang?" lanjutku, sambil nunjuk ke Pina.

"Cocok banget, mas. Sama-sama cakep."

Aku merasa mendapat angin segar.

"Tolong pegangin HP saya dong, bang. Akuanya ntar aja, taroh di situ dulu" kataku meminta abang-abang penjual akua untuk merekam adegan yang ingin aku peragakan.

Pandangan beralih ke kedua mata Pina, dengan agak terbata-bata bilang, "Pin, sorry kalau gua lancang atau gimana. Gua cuma mau ngomongin apa yang gua rasain. Nyampaiin hal yang sebenernya udah lama banget gua rasain. Hal yang gua rasain semenjak kita kuliah bareng dulu. Gua nggak mau jadi  orang lain, ini tetap gua apa adanya. Yang jelas, gua nggak mau jadi pengecut lagi sekarang. Gua dari dulu sebenarnya CI...."

"Iye, aye juga cinte same elu, aye mau jadi pacar elu."

Dan tepuk tangan riuh beberapa penjual akua menjadi saksi dari cinta dua sejoli ini. Bahkan ada tiup pluit segala.

Terima kasih sahabatku Rizky, terima kasih juga temannya teman Rizky buat PIN BBM Pina. You're Rock Guyss! #Halah






Ternyata yang niup pluit tadi adalah pak kusir yang sedang bekerja.




6 komentar

Asik, Soswit juga nih, selamat berbahagia dah sob~ haha

KYAAAA POTO GUE JADI WOLPEPERRRR

Yaelah... kirain beneran, haha. Tapi feelnya dapet broo... :D

Pilih 'Anonymous' atau 'Name/URL' di 'Comment as' jika profil untuk berkomentar tidak ada. Terima kasih telah meninggalkan komentar.
EmoticonEmoticon