Dare To Dream

Waktu masih SD dulu, orang-orang sering bertanya, kalau udah gede gue mau jadi apa. Dan biasanya gue jawab pengen jadi pilot, dokter, polisi, atau pendekar pemanah rajawali. Masa SD memang masa yang sangat labil, gampang banget 'disetir' sama orang lain. 

Beranjak ke SMP mulai kenal yang namanya band beraliran metal. Karena terlihat keren, cita-cita gue berubah pengen jadi rockstar.

Pas SMA mulai lebih realistis, menyadari itu semua sulit dicapai, cita-cita gue berubah lagi. Ingin menjadi orang yang berguna atau minimal membahagiakan orang tua. Cita-cita yang sangat nggak kreatif. Bahkan, sekarang gue rada geli dengan jawaban itu.

Sampai sekarang, cita-cita yang sempat gue impikan itu belum ada satu pun yang terwujud. Dari sini gue sadar, gue harus berusaha lebih lagi keras untuk mewujudkannya mimpi-mimpi yang hampir mustahil itu.

Karena orangnya suka iseng, gue punya satu mimpi besar lagi. Dan lagi-lagi hampir mustahil. Cita-cita apa? Ini dia..

Setelah tiga tahun lulus SMA dan bekerja, gue mutusin untuk lanjut kuliah. Agak telat memang. Di saat teman-teman seumuran udah bisa berfoto pake toga dan terbingkai indah di dinding rumah, gue masih berkutat sama tugas kuliah, rela dititipin (dan nitip) absen, dan yang nggak kalah penting adalah cukup-cukupin uang jajan biar duitnya bisa dipakai buat bayar semester pendek, hehe.

Emang sih, kesuksesan nggak selalu diukur dari seberapa tinggi pendidikannya. Tapi bagi gue, pendidikan itu investasi. Entah gue sendiri yang bakal menikmati, atau justru anak-anak gue kelak. Itu bukan masalah.

Duh, malah curhat gini.

Jadi impian pertama gue adalah lulus kuliah tepat waktu. Bosen juga, umur udah 3 windu tapi statusnya masih mahasiswa aja. Menjadi ayah aja udah pantes, nih. Haha. Karena sekarang semester 6, itu berarti sekitar bulan September 2015 udah bisa wisuda.

Ke dua, seusai kuliah nanti, gue dapet pekerjaan yang gajinya gede. Iya, gajinya gede.

Setelah gaji gede tersebut (anggap lah 30 juta per bulan) terkumpul, gue pengen bikin usaha, yaitu mendirikan sebuah cafe di Bali. Pengalaman kerja kemarin mengajarkan jika bekerja di perusahaan orang lain itu banyak nggak enaknya. Selain gue nggak pernah dipanggil 'boss', peraturan untuk pegawai itu cenderung membatasi kebebasan. Mau libur aja harus pakai ijin ini dan itu. Ribet.

Mungkin kalian berpikir, 'Gimana bisa dapet uang 30 juta per bulan?' 

Jadi, impian gue yang lain adalah blog ini pelan-pelan mulai dikenal orang, perlahan mulai populer, sampai indeks page rank-nya di level 10. Dengan begitu, banyak perusahaan-perusahaan meng-endors produknya melalui blog ini. Saking banyaknya perusahaan itu, gue pun kerepotan ngurusin duit hasil kerja sama ini. Kadang malah sampai 50 juta per bulan. 

Namanya juga mimpi, bebas.

Kembali ke impian ke dua. Kenapa gue milih di Bali? Karena gue pikir saat ini Bali merupakan tempat yang sangat potensial untuk untuk mendirikan cafe. Maklum, di sana banyak bule. Bule identik dengan cafe (?)

Alasan lain kenapa milih di Bali adalah sekalian liburan. Kalau udah tinggal di Bali kan nggak usah bingung mau liburan sama kelurga kemana. Jalan kaki aja udah nyampai Pantai Kute. Jangankan jalan kaki, kepleset aja sampai.

Kalau mimpi itu nggak terwujud gimana?

Tentu saja kemungkinan terburuk buat gue adalah menjadi karyawan swasta lagi. Mengikuti semua aturan dan prosedur yang berlaku. Dan itu nggak enak banget.

Melihat betapa indahnya jika impian itu terwujud dan betapa tidak indahnya jika tidak, gue semakin sadar, kalau gue nggak boleh menyia-nyiakan waktu yang semakin sempit ini. Harus lebih paham apa itu disiplin serta mengaplikasikannya mulai sekarang.

Jadi, apa mimpi besar kamu??


Jenis cita-cita masa kecil. Alasan kenapa jangan takut bermimpi. Mewujudkan mimpi yang tertunda.


“I DECLARE, I WILL ACCOMPLISH MY DREAMS”