Main Liga Tarkam Bareng Garuda Kekar FC

Sepakbola tarkam, Garuda Kekar FC, 17 agustus
Garuda Kekar FC


Sorak sorai penonton bergemuruh dari pinggir lapangan. Saya berlari sekuat tenaga sambil menggiring bola. Sempat berpikir untuk memperagakan teknik menggocek bola yang saya pelajari dari Sean Garnier di Youtube, tapi saya mengurungkan niat mulia itu

Sekarang posisi saya pas banget buat nge-shoot bola. Tanpa pikir panjang sambil slowmotion seperti Captain Tsubasa, saya coba melakukan tendangan spekulasi ke arah gawang. Tepat mengarah ke gawang, namun dengan mudah sang penjaga gawang berhasil mengamankan si kulit bundar.

Sepakbola memang menjadi salah satu acara untuk meramaikan acara 17 Agustus di kampung saya tahun ini. Secara mengejutkan, saya dipanggil untuk memperkuat tim. Padahal saya lebih dikenal sebagai atlet gaple daripada pesepakbola. Belakangan saya tahu alasan di balik pemanggilan ini: tak ada pemain lain

Meskipun lapangan berdebu, tidak rata dan jauh dari standar FIFA, antusiasme para pemain dan penonton sangatlah tinggi. Karena acara seperti ini sudah lama tidak diadakan. Apalagi, piala dunia baru selesai beberapa minggu yang lalu. Semangat dan fanatisme masih banyak tersisa.

Hingga menit ke-10, kedudukan masih 0-0. Antara sama kuat atau sama-sama bego. Tetapi, untuk ukuran sepakbola tarkam (antar kampung) bisa dibilang cukup menarik. Terbukti dari jumlah orang di tribun penonton (padahal jalan umum yang secara biadab dijadikan tempat nonton) yang berjubel menyaksikan pertandingan ini. Di antara kerumunan penonton, tampak abang-abang tukang cilok sedang sibuk melayani pembeli. Semoga berkah ya, bang..

Pertandingan masih berjalan. Jual beli serangan berlangsung dengan sengit, mirip seperti ibu-ibu ketika menawar baju di pasar tradisional. 

Di sisa 25 menit waktu babak pertama ini, napas saya sudah mulai ngos-ngosan tak karuan. Mirip seperti kuda minta kawin. Maklum, saya jarang main bola di lapangan gede. Kalau main di lapangan gede biasanya saya cuma duduk manis sambil sesekali misuh-misuh. Karena di situ saya bertindak sebagai manajer tim (main PS).

Sekitar menit ke-21, tim gue mendapatkan tendangan bebas. Beberapa teman berdiskusi menentukan siapa yang akan menendang bola. Sebagai seorang striker yang mempunyai naluri membunuh (membunuh kecoa), saya lari sana-sini mencari posisi yang tepat. Posisi jatuhnya bola seandainya tidak gol dan terjadi rebound. Karena berdasarkan rencana awal, setiap kali mendapatkan freekick, bola akan ditendang langsung ke arah gawang.


'Priiittt....' pluit wasit berbunyi pertanda bola boleh dieksekusi.

Saya beruntung karena hanya dikawal oleh satu bek berbadan kecil. Mungkin mereka nggak yakin dengan kemampuan saya. Karena secara fisik badan saya lebih mirip sopir truck daripada pemain bola.

Bola ditendang agak tinggi. Awalnya gue kira bakal lewat di atas mistar gawang, nggak taunya malah membentur mistar. Tendangan pisang ala David Beckham nih. Bola jatuh di luar kotak penalti, terjadilah kemelut. Sayangnya agak jauh dari jangkauan saya.

Nggak tau dari mana datangnya, tiba-tiba bola ditendang kenceng banget sama temen saya. Sialnya bola menuju ke arah gue. Nggak sempet menghindar, bola lebih dulu kena muka saya, PLAKK!!

Bola pun berbelok arah (kalau di liga Inggris, komentatornya pasti heboh trus teriak, 'DEFLECTED!) menuju tiang jauh penjaga gawang. GOAL!

GUE BIKIN GOAL!


Tadinya saya pengen selebrasi. Tapi mengingat kualitas gol yang tarkam banget, saya mengurungkan niat ini. Meski begitu, pencetak gol tercatat atas nama saya HAHAHA (ketawa setan).

Sayang nggak berapa lama, tim lawan berhasil menyamakan kedudukan menjadi satu sama, diikuti bunyi pluit tanda babak pertama usai. Saya cukup senang karena berhasil mencetak gol. Tapi napas saya ngos-ngosan parah. Tadinye pengen minta ganti, tapi karena waktu di babak pertama udah mau abis, jadinya saya paksain aja.

Sepuluh menit waktu istirahat yang diberikan dimanfaatkan untuk melepas dahaga, melepas lelah. Ada yang nyari pinjaman sepatu (karena sepatu pinjaman sebelumnya kelonggaran), ada yang merencanakan strategi berikutnya, macam-macam lah. 

Sepuluh menit berlalu, waktu istirahat habis. Pertandingan dilanjutkan, babak ke dua dimulai.

Strategi babak ke dua tidak berbeda jauh dengan babak pertama, yaitu oper-oper-oper-oper-oper-tendang ke arah gawang. Saya sempat sekali lagi dapat kesempatan buat nendang ke arah gawang, sayang masih melenceng sekitar 19,745 meter dari arah gawang. Saya cuma bisa geleng-geleng kayak kipas angin.


Karena udah bener-bener nggak kuat, saya minta ganti aja. Daripada dipaksain trus mati. Jujur, saya belum siap mati.

Di sinilah terjadi momen indah itu. Ketika saya berjalan dari dalam menuju  pinggir lapangan, saya mendengar riuh tepuk tangan para penonton dari belakang. Saya sih berharap mereka yang tepuk tangan adalah cewek-cewek seksi berbikini. Namun, harapan ini musnah seketika ketika saya menoleh ke arah mereka. Ternyata mereka sekumpulan ibu-ibu kurang kerjaan yang kebetulan menonton. Huft.

Sampai di pinggir lapangan, saya ngambil minuman wajib sepakbola tarkam: Pocar*i Sweat, sembari menyaksikan teman-teman melanjutkan pertempuran.


Tampaknya usaha gigih Garuda Kekar FC tidak sia-sia, pasalnya kami berhasil mencetak satu gol lagi yang bertahan hingga laga usai. Golnya bisa dibilang bagus meski agak spekulatif.



Sepakbola tarkam, Garuda Kekar FC, 17 agustus
pencetak gol ke dua

Kami bersorak sesaat setelah pluit tanda pertandingan berakhir dibunyikan, merayakan kemenangan pertama kompetisi sepakbola tarkam di Desa Sempukerep ini.

Sepakbola tarkam, Garuda Kekar FC, 17 agustus
merayakan kemenangan bareng coach, assisten dan pemain cadangan