Sekolah Menengah Pertamaku

Sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya belajar mandiri. Mandiri dalam artian nyuci baju sendiri, nyetrika baju sendiri (mendadak ingat lagunya Caca Handika, Masak-masak sendiri.. makan-makan sendiri..)

Saya belajar teknik dasar mencuci dan menyetrika dari kakak perempuan. Teknik ini saya kembangkan hingga akhirnya expert seperti sekarang (halah).

Ini saya lakukan karena kedua orang tua merantau ke Jakarta demi membiayai sekolah saya. Agak sedih sih kalau diinget-inget. Selain karena jarang banget bisa berkumpul sama mereka, saya selalu repot sendiri ketika pembagian raport tiba. Di momen inilah kadang saya menganggap tukang ojek seperti orang tua sendiri, hehe.


Model rambut pun berubah. Dari yang dulunya belah pinggir kayak Kak Seto, sekarang belah tengah mirip Ariel dan Haji Lulung. Sembilan dari sepuluh anak gaul di masa itu pasti mengikuti gaya ini. Biar menimbulkan efek wet look, saya memakai minyak rambut gel yang lengketnya aduh-alamak-jang itu.

Ternyata minyak rambut jenis ini kurang baik bagi tumbuh kembang rambut. Efeknya baru terasa beberapa tahun kemudian. Rambut saya yang tadinya halus seperti rambut model iklan sampo pentin, sekarang jadi kaku dan bercabang seperti sapu ijuk dikasih hair spray.

Lambang OSIS SMP
Dilihat kotak, dipegang bulet

Perjalanan dari rumah menuju sekolah (dan sebaliknya) bisa dibilang sebuah perjuangan. Gimana nggak, dulu nggak ada yang namanya angkot (sampai sekarang pun nggak ada karena daerahnya di pedesaan. Kalau pun ada namanya angkudes kali ya?). Saya dan teman-teman berangkat dan pulang selalu bersama-sama dengan mobil berplat hitam. Iya, mobil yang seharusnya untuk pribadi tapi malah dipakai buat ngompreng. Dan itu hanya tersedia di jam-jam tertentu. Kalau sampai ketinggalan, kemungkinan besar kami akan telat masuk sekolah.

Pedih.

Naik ke kelas 2 saya menggunakan sepeda motor, karena transportasi masih belum juga membaik. Satu masalah teratasi, masalah lain timbul. Beberapa kali saya ditegur oleh guru BP, karena siswa dilarang membawa sepeda motor ke sekolah.

Masalah lain yang sering mempertemukan saya dengan guru BP di ruangannya adalah soal rambut yang terlalu panjang. Nggak tau kenapa rambut saya cepet banget tumbuhnya. Padahal waktu itu belum kenal yang namanya minyak Firdaus.

Pada masa ini juga, kumis dan jenggot mulai tumbuh. Kamu yang baru pertama akan mencukur kumis dan jenggot, ada baiknya baca pengalaman pertama saya mencukur kumis berikut yang ini.

Saya juga pernah menjadi pemimpin upacara. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, kenapa saya yang ditunjuk? Padahal masih banyak orang lain yang menurut saya lebih layak. Bukan gimana-gimana, pemimpin upacara kan harus mempunyai suara yang lontong lantang, sedangkan suara saya... sedih kalau diceritain mah. Sebagai gambaran, skor tertinggi waktu karaoke tak sampai menyentuh angka 60, hehe.

Segitu aja ceritanya. Saya tidak tahu gimana cara menutup tulisan minim manfaat ini. Pokoknya, buat yang masih sekolah, nikmati saja. Jangan mengeluh karena kebanyakan PR atau uang jajannya kurang. Suatu saat kalian pasti merindukan masa-masa ini.