Pameran Alutsista di Monas

Alutsista, Monas


Di tengah perjalanan menuju kampus kemarin, saya menyempatkan diri mampir ke Monas. Rasanya sudah lama sekali tak ke tempat ini. Terakhir kali ke sana ketika Jakarta masih dipimpin oleh Gatot Kaca (saking lamanya). 

Kebetulan Monas sedang mengadakan pameran alutsista. [Buat yang belum tau, alutsista adalah kependekan dari Alat utama sistem senjata Tentara Nasional Indonesia].

Ternyata Monas nggak banyak berubah saudara-saudara sekalian. Masih banyak pedagang kaki lima menggelar lapaknya, masih banyak sampah di sana-sini (padahal sudah disediakan tempat sampah), dan masih banyak juga yang masuk lewat pintu ini:

Alutsista, Monas
Pintu masuk Monas [dokumen pribadi]


Itu adalah pagar yang secara biadab dijadikan pintu masuk. Wajar jika banyak yang lewat jalan pintas yang tidak pantas ini, karena jalan masuk dari lokasi parkir cukup jauh. Saya juga akhirnya ikut-ikutan lewat jalan ini, karena saya manusia biasa yang mempunyai rasa malas, haha.

Alutsista, Monas
Tuh kan, banyak yang lewat situ

Sempat melihat atraksi debus. Ngeri, darahnya kemana-mana. Baru pertama kali melihat debus yang 'digorok' lehernya seperti itu. Biasanya kan tangan atau kaki, itu pun nggak mempan.

Nggak sampai pertunjukan selesai, saya meninggalkan area berdarah ini, bergegas menuju ke tempat pameran. Dari depan tampak seperti ini:

Alutsista, Monas

Nggak banyak yang dipamerkan. Mungkin karena penyelenggara sadar bahwa pamer adalah perbuatan riya'.

Alutsista, Monas
Panser Tarantula

Alutsista, Monas
Helikopter MK 5 P

Alutsista, Monas
Kalo yang ini gedung Pertamina, bukan bagian dari pameran

Ya begitulah. Rasa penasaran saya berakhir sampai di sini. Sebenarnya masih ada lagi beberapa peralatan tempur. Tapi ya gitu, dipakai banyak orang buat foto-foto, jadiny susah cari posisi yang pas buat saya untuk mengabadikannya. Sebelum menuju tempat parkir, saya sempat beli minuman dingin. Agak kecewa karena rasa minumannya tak sesuai dengan namanya: es teh manis tapi rasanya hambar.
Alutsista, Monas
The longest journey is started from the first step