Kecoa, Dimas dan Motor Barunya

Dimas dan Ryan adalah dua orang yang sudah lama menjalin persahabatan. Berawal dari Sekolah Dasar hingga sekarang di bangku kuliah. Mereka kuliah dengan jurusan yang sama tetapi di kampus yang berbeda.

Sore itu, mereka berkumpul di depan rumah Dimas, seperti biasa. Mereka duduk di teras rumah, bermain catur dan bercengkerama sambil main Get Rich. (Emang bisa ya?)

Rumah Dimas bisa dibilang cukup mewah. Maklum, dia adalah orang kaya. Lebih tepatnya anak orang kaya. Kedua orang tuanya adalah pebisnis sukses. Namun, kesuksesan ini ternyata banyak menyita waktu Dimas dengan kedua orang tuanya. Tak jarang mereka pergi ke luar kota untuk urusan bisnis. Alhasil, Dimas sering menempati rumah berharga miliaran itu hanya dengan sopir dan kedua asisten rumah tangganya. Hal ini seringkali membuat Dimas berbicara dengan dinding kamar dan kucing peliharaannya.

Sedangkan Ryan adalah antitesis dari Dimas. Kedua orang tunya jauh dari kata mampu. Meski begitu, Ryan beruntung karena mempunyai otak yang cerdas. Sehingga dia bisa meneruskan kuliah dengan beasiswa penuh.

"Dim, besok gue pinjem motor lu, ya." Ryan bertanya kepada Dimas.

"Boleh. Mau kemana emang?"

"Mau ngajakin Nina jalan-jalan. Hehehe."

Nina adalah pacar Ryan. Mereka berhubungan sejak SMA. Keduanya adalah pengurus OSIS yang aktif. Dari sini lah, perasaan keduanya menjadi 'aktif' satu sama lain.

Jika urusan harta Dimas lebih baik dari Ryan, maka untuk urusan asmara terjadi hal sebaliknya. Iya, Dimas jomblo. Sama seperti Ryan, Dimas dulu berpacaran ketika masih SMA. Farah, pacar Dimas yang dipuja-puja ternyata berselingkuh. Sial bagi Farah, ternyata dia selingkuh dengan orang yang berniat selingkuh juga. Parah sekali. Menyadari hal ini, Farah segera memutuskan selingkuhannya. Dia merasa sakit hati karena diselingkuhi.

Rumit ya?

Sekarang, Dimas dan Farah sama-sama jomblo. Beberapa kali Farah meminta maaf kepada Dimas karena telah selingkuh. Bahkan sempat meminta untuk balikan. Tapi Dimas tidak mau. Dia kekeuh pada prinsipnya: "Balikan dengan mantan itu seperti membaca novel dua kali: endingnya sama".

"Eh, ngomong-ngomong, motor lu mana? Tadi gue lihat di garasi nggak ada." Ryan bertanya sambil celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Mencari keberadaan sepeda motor yang sering dipakai Dimas.

"Yang 900CC itu? Udah dijual sama papa."

"Lho, kenapa? Bukannya itu motor kesayangan lu?"

"Iya sih. Tapi gimana lagi, bahan bakarnya habis."

"..."

Saking kayanya, Dimas tidak pernah membeli bahan bakar jenis Premium. Dia selalu menggunakan Pertamax. Jika Pertamax-nya habis, dia membeli motor baru. Ini ironis jika dibandingkan dengan penulis cerita ini.

Sedang asik ngobrol ngalor-ngidul, tiba-tiba sebuah mobil datang ke rumah Dimas. Rupanya mobil itu mengantarkan sepeda motor yang dipesan oleh ayahnya untuk Dimas.

"Permisi mas, saya dari Berlian Motor ingin mengantarkan sepeda motor pesanan atas nama bapak Wicaksono."

"Iya mas. Beliau ayah saya."

"Silahkan tanda tangan di sini." kata orang dealer seraya menyerahkan pulpen dan secarik kertas.

"Lho, kok matic sih?"

"Memang pesanan bapak Wicaksono ini, mas."

"Sebentar mas, saya telepon papa dulu." Dimas mencari kontak ayahnya di handphone, kemudian menelponnya. "Halo papa, kok beli motor matic sih?"

"Iya Dimas, papa sengaja membelikan motor itu biar kamu nggak ugal-ugalan lagi. Kamu lupa kecelakaan 3 bulan lalu karena kebut-kebutan? Kamu hampir mati, lho."

"Tapi pa..."

"Udah, terima aja. Papa lagi rapat nih. Baik-baik ya di rumah.."

Tut..tut..tut...


"Ya udah mas, turunin aja." kata Dimas kepada mas-mas dari dealer sambil membubuhkan tanda tangan.


Setelah menurunkan sepeda motor Dimas, mas-mas dealer pun berlalu untuk menunaikan tugas berikutnya.

Ryan yang sedari awal ingin meminjam sepeda motor Dimas menjadi ragu. Khawatir sahabat baiknya ini tidak memperbolehkannya.

"Lu jadi jalan sama Nina kan?" Dimas sepertinya tahu apa yang ada di dalam pikiran Ryan.

"Emm.. Gimana ya?"

"Udah, pake aja motornya. Nggak apa-apa."

"Bener?" muka Ryan berseri-seri.

"Iyeee. Gue nggak suka motor matic. Lagian, coba liat. Masa motor baru ada kecoanya sih?"

"Hah?" Ryan kaget. Secara refleks, dia menaikkan kaki ke kursi yang didudukinya.

"Jadi lu takut sama kecoa? Hahahaha" Dimas tertawa lepas setelah mengetahui aib sahabatnya ini.

"Bukan takut Dim, gue geli." kata Ryan sambil bergidik. "Ngomong-ngomong, kecoa bertelur apa melahirkan sih, Dim?"

"Bertelur."

"Sok tau lu.."

"Beneran. Ini analisa gue: Hewan melahirkan kan otomatis menyusui. Hewan menyusui berarti punya payudara dong? Nah, pernah liat kecoa pakai bra nggak?"

"Enggak sih."

Cerpen, Kecoa Bertelur, Dimas dan Ryan, Sahabat, Selingkuh, Moge
Tuh kan, nggak pakai bra.