Kontes Foto Teka-Teki Bersama Kresnoadi

Ketika bogwalking kemarin, saya sempat membaca sebuah artikel tentang kontes. Berhubung sudah lama sekali tidak ikut kontes atau give away seperti ini, saya memutuskan untuk ikut. Kontes terakhir yang saya menangkan adalah kontes foto (lebih tepat disebut kuis) yang diadakan oleh Nyunyu. Buat yang penasaran, bisa baca ceritanya di sini.

Kontes ini diadakan oleh Kresnoadi DH (keriba-keribo.blogspot.com). Serupa dengan kontes Nyunyu dulu, ini adalah kontes foto juga. Jadi, peserta diwajibkan berfoto bersama ebook Teka-Teki (ebook karya Kresnoadi) yang ditampilkan melalui gadget.

Kontes Foto Teka-Teki Bersama Kresnoadi
Cover ebook Teka-Teki

Untuk informasi kontes foto selengkapnya, bisa langsung dibaca di blognya.

Setelah men-download ebook Teka-Teki, saya membaca cerita yang ada di dalamnya. Cerita yang mengingatkan saya tentang sesuatu hal adalah cerita pertama yang berjudul [setelah saya cari-cari, ternyata tidak ada judulnya. Entah sengaja dihapus atau bagaimana, saya tidak tahu. Mungkin karena saya mendownloadnya secara gratis, hehe. Yang jelas, kalimat pertamanya "KAMU baru saja naik kelas 2 SMA."]

Kontes Foto Teka-Teki Bersama Kresnoadi

Cerita ini mengingatkan saya ketika awal masuk SMK. Kalau ebook ini bercerita tentang perpisahan dengan teman sekelas karena berbeda jurusan di kelas 2, saya berpisah dengan teman-teman SMP (kebanyakan tetangga) yang melanjutkan sekolah ke SMA. Sedangkan saya melanjutkan sekolah ke SMK bidang Teknologi Industri jurusan Mekanik Otomotif (bilang aja STM. Ribet kamu, mz).

Sebenarnya saya dulu ingin masuk SMA juga, tetapi orang tua menyarankan ke STM. "Ke STM aja, le. Nanti biar cari kerjanya lebih gampang," kata mereka, kompak. Tentu saja dengan logat Jawa yang ketal. Karena tidak mau dikutuk jadi batu, akhirnya saya mengikuti saran mereka, hehe.

Salah satu pertimbangan kenapa saya ingin masuk SMA adalah karena pasti di STM nanti akan sulit sekali menemui cewek-cewek yang modus-able. Namanya juga STM, kebanyakan peminatnya adalah cowok-cowok.  Di masa itu, melihat cewek (atau guru wanita yang masih muda) itu bagaikan melihat Es Cendol di tengah Gurun Sahara yang sedang dilanda kebakaran. Seger banget! (Semoga Ocha tidak membaca ini).

Selain alasan kurang penting di atas, kehadiran murid cewek di dalam kelas itu penting demi kelancaran proses belajar mengajar. Minimal, dengan adanya mereka, para murid cowok akan merasa malu jika mendapatkan nilai jelek. Buntutnya, mereka akan belajar lebih giat meskipun sekedar menjaga gengsi.

Terserah percaya atau tidak.

Karena letak sekolah agak jauh dari rumah, saya memutuskan untuk menyewa tempat kost. Biasa pulang seminggu sekali. Otomatis waktu untuk bertemu teman-teman di rumah menjadi sangat sedikit. Agak berat memang jika tiba-tiba harus berpisah dengan kawan-kawan 'gila' seperti mereka. Dari yang biasanya main game bareng, main layang-layang bareng, mancing bareng (ini kok kayak si Bolang, ya?) tiba-tiba dihadapkan dengan lingkungan dan teman-teman baru.

Tetapi saya berusaha menikmati saja semua ini. "Mungkin cerita ini akan berakhir manis," pikirku, meyakinkan diri.

Hingga akhirnya menjelang Ujian Nasional tiba, ada sebuah kabar yang cukup menggembirakan untuk anak SMK, termasuk anak STM. Jumlah mata pelajaran Ujian Nasional untuk anak SMA ternyata lebih banyak dari anak SMK. Anak SMA harus menghadapi lima mata pelajaran, sementara anak STM cukup tiga mata pelajaran. Tentu saja menggembirakan, beban psikologis yang kami tanggung tidak seberat anak SMA.

Singkat cerita, saya lulus. Tidak lama setelah itu saya mendapatkan pekerjaan. Saya jadi ingat saran kedua orang tua sebelum masuk SMK dulu. Semakin yakin jika feeling orang tua memang tidak pernah salah.

Keterangan foto: Saya sudah mencoba berulang kali berfoto di kamar, tetapi gelap, layar HP tidak terlihat. Saya coba di luar rumah, ternyata sama saja. Mungkin karena terhalang oleh antigores HP. Makanya saya memutuskan untuk 'menempelkan' screenshot saja ebook Teka-Teki di foto tersebut. Itu ekspresi saya setelah membaca habis cerita ebook-nya. Awalnya ingin saya buat lebih ekspresif, tetapi ternyata saya tidak bisa berekspresi. Seandainya pandai berekspresi dan berakting, mungkin saya sekarang sudah bermain sinetron dimana-mana, mampu membeli rumah lengkap dengan Mini Chopper di garasi, hehe.