Pertama Kali Naik KRL

Saya termasuk tipe orang yang males naik angkutan umum (sebut angkot, Bajaj, atau Kopaja) karena ngetem nungguin penumpangnya lama banget. TransJakarta juga gitu, datangnya jarang-jarang. Udah gitu, sekalinya dateng pasti penuh, harus berdiri dengan mencium aneka rupa bau ketek.

Selain berisik dan bergetar, saya males naik bajaj karena saya kurang pandai tawar-menawar harga. Pernah dulu naik bajaj buat jarak sekitar 5 km, bayarnya 15ribu. Mending naik taksi, deh. Kapok. 

Kopaja, kendaraan yang hanya sopirnya dan Tuhan aja yang tau kapan kendaraan ini berhenti. Iya, angkutan umum yang satu ini emang terkenal ugal-ugalan, berhenti semaunya. Bahkan di tengah jalan sekalipun. Saya nggak mau naik Kopaja semata-mata karena alasan keamanan.

Hari Sabtu (21/03/2015) kemarin, saya main ke Bogor. Jarang-jarang nih, ke luar kota. Dulu sih sering. Soalnya dulu kerja di BEKASI. Bolak-balik Jakarta-Bekasi.

Dulu biasa ke luar kota pakai motor, karena belum bisa nyetir mobil. Dan emang belum punya mobil. Karena Jakarta-Bogor cukup jauh, saya memutuskan untuk naik KRL saja. Cukup duduk manis, sambil main HP aja udah bisa sampai tujuan. Saya naik KRL dari Stasiun Jakarta Kota Jakarta ke Stasiun Bogor. Bisa dibilang dari ujung ke ujung. Maksudnya dari Stasiun Jakarta Kota, KRL jalan mentok ke Stasiun Bogor, begitu sebaliknya.

Tiket KRL, cara naik KRL terbaru
Tiket KRL -dokumen pribadi

Saya beli tiket harian, karena emang cuma buat hari itu. Satu tiket dari Stasiun Jakarta Kota ke Stasiun Bogor dihargai Rp. 10000. Ini termasuk uang jaminan tiket senilai Rp 5000. Uang jaminan tiket ini nantinya bisa diambil lagi di stasiun tujuan dengan cara menukarkannya di loket penukaran tiket. Jadi, tiketnya jangan sampai hilang.

Karena lagi libur, penumpang nggak terlalu banyak. Jadi saya bisa duduk manis sampai stasiun tujuan.

Btw, kamu lebih suka naik angkutan umum atau mobil pacar?