Daftar Handphone Naas yang Pernah Saya Gunakan

Saat ini kalau ngomongin handphone emang nggak ada habisnya. Bulan ini muncul model baru, eh bulan depan udah ada lagi model terbaru yang lebih cihuy. Hal-hal kayak gini yang kadang bikin orang KZL karena buru-buru beli handphone.

Sebelum smartphone membanjiri pasaran seperti sekarang, saya pernah mengenal handphone monophonic dengan layar monochrome yang sempat menjadi primadona; Nokia 2100. Nokia 2100 menjadi primadona kala itu karena bentuknya yang mungil. Lebih kecil dari Nokia 3310 atau Nokia 3315. Anak 90an awal pasti paham dengan fenomena ini.

Saya mengenal ketiga tipe handphone kelas low-end tersebut waktu SMP, tapi saya nggak pernah menjadi pengguna ketiganya. Bisa dibilang cuma sekedar kenal aja, nggak sempet make (?) dalam waktu yang lama. Soalnya anak-anak seumuran saya waktu itu masih pada main gundu, belum main gadget seperti anak-anak sekarang.

Tua banget nggak, sih? :/

Nokia mendominasi pasaran handphone waktu itu karena pengoperasiannya dikenal cukup mudah. Era Nokia 2100 mulai tergeser oleh kehadiran handphone polyphonic dengan fitur radio dan layar berwarna. Dari sini lah (setau saya) banyak produsen lain mulai membuat handphone di kelas ini, hingga akhirnya Nokia merilis smartphone ber-OS Symbian.

Handphone pertama yang saya gunakan adalah Nokia 6600, karena bisa gini-gitu. Wajar lah ya, namanya juga smartphone. Aplikasi paling cihuy waktu itu adalah remot infra merah. Soalnya bisa banget mindahin channel tanpa harus berebut remot TV. Beda dengan smartphone jaman sekarang, kebanyakan (atau malah semua) nggak ada fitur infra red. Bisa juga sih buat mindahin channel TV, tapi sebatas pada TV pintar alias smart TV.

Aplikasi favorit lainnya adalah SeleQ. Karena selain bisa untuk ngirim file, misalnya lagu, aplikasi ini bisa buat nge-hide file lain seperti video dari Gallery. Video klip Peterpan misalnya.
Nokia 6600 via klinik-it.blogspot.com

Kekurangan Nokia 6600 adalah joystick yang gampang banget rusak. Makanya nggak banyak game yang saya install. Meski begitu, akhirnya rusak juga. Beli joystick ori mahal banget, beli yang non-ori cepet banget rusak. Akhirnya ya udah, pensiunin aja. Soalnya tren pengguna handphone mulai berganti ke segmen musik.

Tanpa banyak pertimbangan, pilihan handphone musik saya akhirnya jatuh kepada Nokia N70 Music Edition. Padahal Sony juga merilis handphone musik waktu itu, malah suaranya lebih oke. Entah kenapa saya malah memilih Nokia lagi. Mungkin ini yang dinamakan cinta..

Di masa ini juga, media sosial meningkat dengan pesat, terutama Facebook. Meski Blackberry mempunyai kelebihan update status Facebook berupa "...via Blackberry" (menurut saya ini kelebihan, hehe), saya tak berniat menggunakannya. Saya masih setia menggunakan Symbian. 

Namun, kesetiaan ini berakhir setelah saya berjumpa OS besutan Google, Android.

Smartphone Android pertama yang saya gunakan adalah Mito. Lupa tipe berapa, yang jelas memiliki fitur standar seperti dual SIM, jaringannya HSDPA dan dual camera (bukan buat selfie, tapi buat video call). Fitur yang menurut saya cukup oke waktu itu. Rego nggowo rupo, sebuah pepatah Jawa yang berarti harga suatu barang berbanding lurus dengan kualitasnya. Meski dibuat oleh China, tapi sepertinya smartphone ini menjunjung tinggi pepatah Jawa tersebut. Nggak sampai setahun udah tutup usia. Sedih.

Karena masih suka dengan fitur-fitur di Android, saya memilih untuk membeli Smartphone Android lagi. Lupa juga tipe berapa, kali ini saya beli merk Polytron. Fitur-fiturnya hampir sama dengan Mito, cuma ada tambahan autofocus di kamera dengan OS Android baru. Smartphone dengan merk yang lebih mirip dengan peralatan rumah tangga ini masih ada sampai sekarang. Karena sesuatu hal (kadang rusak kadang enggak), smartphone ini harus rela berpindah tangan.

Sekarang, saya masih menggunakan Android juga, Samsung Galaxy Duos. Meski kadang-kadang nge-hang, saya masih sayang banget sama smartphone pemberian kakak ini. Gimana nggak, si putih buatan Negeri Ginseng ini setia banget menemani, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Saya sih berharap dia selalu baik-baik aja. Soalnya, perannya emang krusial banget saat ini. Ini nulis di blog juga karena bantuan dia. Saya memanfaatkan Wi-Fi Hostpot miliknya. Mungkin karena ini juga, sekarang batrenya mulai sakit-sakitan.

Itu beberapa handphone yang sempat saya gunakan. Kalau kamu, handphone apa aja yang pernah kamu pake gunakan?