Ngomongin Otomotif

Lagi pengen ngomongin sesuatu yang aku pelajari waktu sekolah dulu. Buat yang belum tau, aku adalah lulusan STM jurusan Mekanik Otomotif. Lulus tahun berapa kayaknya bukan soal, hehe.

Eh iya, kali ini aku pakai 'aku'. Sejak ganti domain baru, aku memutuskan untuk tidak memakai 'gue', tapi 'aku' atau 'saya'. Tadinya sih pakai 'gue', soalnya aku benar-benar mengenal blog dari mereka yang rata-rata menggunakan 'gue' untuk menyebut dirinya sendiri. Setelah dibaca dan dipikir-pikir, rasanya aneh menggunakan 'gue', soalnya jarang juga pakai kata itu dalam keseharian. Biasanya sih, pakai 'gua', menyesuaikan dengan orang sekitar. Lagian, kalau menggunakan 'gue', nada bicaraku agak medok, kayak Udin Penyok. Ini ciri khas sekaligus kekurangan dari orang Jawa. Meski tak semua.

Kembali ke otomotif. Aku sedang tak ingin ngomongin otomotif secara detail. Tapi ngomongin salah satu sistem secara umum, dipadu dengan curhatan, hehe.

Jadi beberapa waktu lalu aku dimintai tolong untuk service berkala motor kakak ke bengkel resmi. Sepeda motor matic bongsor yang model terbarunya mempunyai fitur Idling Stop System (ISS). Sistem ini memungkinkan untuk menyalakan engine yang otomatis mati pada putaran idle dalam beberapa detik, tanpa menekan tombol start. Cukup menarik gas, otomatis engine akan menyala. Tujuannya sih, untuk menghemat bahan bakar. Cocok lah untuk jalanan yang sering macet seperti di Jakarta ini.

Kelebihan sepeda motor matic adalah kemudahan dalam berkendara. Bisa dibilang, tinggal narik gas, motor udah bisa jalan tanpa harus mikir enaknya pakai gigi berapa. Makanya di awal keluar, sepeda motor jenis ini menyasar ke pengguna wanita. Tapi, sekarang banyak juga kaum pria yang menggunakannya. Malah ada kompetisi drag untuk kelas matic.

Segala kemudahan itu berkat sistem pemindah daya yang digunakan. Motor matic menggunakan Continous Variable Transmission (CVT) untuk meneruskan daya yang dihasikan engine ke roda. Pada dasarnya, sistem CVT terdiri dari 3 bagian utama, yaitu puli primer, puli sekunder dan sabuk atau v belt. Sistem ini memanfaatkan gaya sentrifugal untuk mengubah perbandingan atau ratio dari kedua puli tersebut secara otomatis. 

Bingung, ya? Supaya tidak bingung, silahkan saksikan video berikut:


 
Nah, ketika service kemarin, ternyata sistem CVT motor sudah kurang sempurna. Jadi harus diganti beberapa komponennya. Memang tadinya sepeda motor sudah kurang enak dipakai. Seperti ada goncangan kecil setiap kali gas ditarik.

Yang agak tidak mengenakkan adalah biaya penggantian sistem CVT ini ternyata lumayan mahal. Apalagi, kata mekaniknya komponen ini rata-rata hanya bertahan sampai 20ribuan kilometer saja. Artinya setiap 20ribuan kilometer, sang empunya motor harus siap-siap mengeluarkan uang sebesar setengah juta lebih.

Eh, tapi mahal/tidak itu relatif, tergantung dari sudut pandang siapa kan, ya? Meski tak harus direpotkan dengan pemindahan gigi, menurutku biaya perawatan dengan angka segitu cukup mahal, sih.

Kamu lebih suka pakai motor matic apa jet pribadi? *loh