Diskusi Ilmiah Antara Tiga Sahabat

Indra dan Lesmana tampak sedang terlibat dalam perdebatan yang cukup sengit di dalam sebuah angkringan. Gaya bicara Indra yang berapi-api bak proklamator yang sedang berpidato, dipadu dengan sifat Lesmana yang tak mau mengalah seolah menjadi bumbu dari perdebatan sengit yang sepertinya tak terlalu penting itu.

Mereka berdua adalah sahabatku. Saat ini mereka masih kuliah. Sementara aku, jangankan kuliah, sekolah saja tepaksa berhenti dan menjadi tukang parkir mini market seperti ini demi sesuap sushi. Meski begitu, aku tetap bersyukur. Karena 'profesi' yang aku jalani ini seringkali dijadikan bahan kutipan oleh para ustadz ketika berceramah. 

"Belajarlah ikhlas dari tukang parkir ketika kehilangan sesuatu. Karena sesungguhnya semua yang kamu miliki itu hanyalah titipan semata".

Begitulah kira-kira.

Aku yang sedari awal mengamati mereka berdua sambil mengawasi motor-motor titipan agar tetap aman ini pun akhirnya tak tahan ingin tahu juga. Apa yang sebenarnya mereka perdebatkan. "Ah, palingan ngomongin cewek," pikirku.

Menyadari kehadiranku, mereka berhenti sejenak dalam berdebat. Akan tetapi Lesmana langsung sibuk dengan handphone-nya.

"Eh Vino, sini ngobrol bareng," ucap Indra seraya menyiapkan tempat duduk untukku.

"Ngapain, sih, heboh bener kayaknya?" tanyaku.

"Biasa lah, diskusi. Eh, mau pesen apa?"

"Apa aja, deh. Susu jahe juga boleh. Tapi kasih gula seperempat sendok teh, trus pas nuang susunya sambil tahan napas, ya. Kalau bisa susunya yang diimpor langsung dari Jepang."

"Kampret."

"Hehe. Kamu ngapain, sih, Les?" tanyaku kepada Lesmana yang terlihat lebih tertarik dengan handpone-nya daripada kehadiranku.

"Ini, masa kata Indra, cewek yang udah nggak perawan katanya punya ciri khusus. Aku nggak percaya, ini lagi nyari bukti sahih dari Google".

Jadi dari tadi mereka memperdebatkan keperawanan. Pantes.

"Emang ada ciri khusus, kok." jawabku mantap.

"Masa?" Lesmana terkaget-kaget, sementara Indra tersenyum dengan ekspresi tuh-kan-apa-gue-bilang.

"Dilihat dari cara jalannya udah kelihatan."

"Kelihatan gimana?" Lesmana semakin penasaran.

"Jadi gini, cewek udah nggak perawan itu kalo jalan biasanya di sebelah ada seorang cowok. Terus, biasanya lagi, si cewek nuntun atau ngegendong anak kecil."

"Hah?"

"Kayak gini, nih," kataku sambil memperlihatkan foto di tablet Mito milikku.

Ciri-ciri wanita tidak perawan. Virgin. Cewek.
Yang tengah itu anak yang lagi lucu-lucunya, ya. Bukan kambing seperti yang kamu pikir. (via kambingboer.co.id)

"Itu sih emang anak dan suaminya, kampret! Ya jelas udah nggak perawan lah".

"Haha," aku tertawa garing.

Dengan muka datar dan mata yang menyempit, Indra tampak seperti orang yang kehilangan gairah hidup. Mungkin dalam otaknya berpikir, 'Apa sih, Nyet, nggak lucu amat!'

"Eh, susu jahenya udah jadi. Gue minum, ya." kataku sebagai pengalihan isu atas gagalnya lawakanku malam itu.