Waduh! Blogger Ini Gagal Makan Gratis Karena Salah Perhitungan

Apakah hanya dengan memiliki blog, seseorang bisa disebut blogger? Jika iya, maka saya akan mulai bercerita. Jika tidak, silahkan sudahi saja membaca tulisan minim manfaat ini, hehe.
--

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan tawaran job review dari salah satu restoran di Jakarta. Mengetahui syarat yang tak terlalu sulit, saya pun langsung mengiyakan. Sebenarnya bukan job review juga sih, soalnya terlalu sederhana untuk disebut demikian. Saya hanya diminta membuat artikel dengan menyertakan link menuju website mereka.

Reward yang mereka tawarkan adalah voucher senilai Rp. 100.000 dan uang tunai Rp 50.000. Tak terlalu besar memang, tapi saya pikir sepadan dengan apa yang harus saya kerjakan.

Singkat cerita, artikel yang mereka minta sudah saya publish. Sempat su'udzon karena di hari yang dijanjikan tak ada kabar lebih lanjut mengenai reward yang akan saya dapatkan. Meski begitu, saya tetap menjalani hari seperti biasa; mandi 2 kali sehari, gosok gigi setelah makan dan sebelum tidur, serta getok-getok remot TV ketika tidak berfungsi (dan anehnya si remot bisa langsung berfungsi kembali).

Setelah hampir satu bulan berlalu, akhirnya mereka menelpon saya untuk konfirmasi reward serta meminta maaf atas keterlambatan ini. Niat juga, ya, konfirmasinya via telpon.

Beberapa hari berselang, saya bermaksud menukarkan voucher tersebut. 'Harus pas Rp 100.000, tidak kurang, tidak lebih', pikirku. Setelah melihat menu (sebenarnya yang saya lihat adalah harganya, seperti kebanyakan cowok pada umumnya), saya menemukan menu yang setelah saya jumlahkan dengan rumus aljabar dan integral  parsial berjumlah total Rp 100.000.

Tapi, untung tak dapat diraih, Malang dekat Kediri. Saya lupa memikirkan soal pajak. Dari total pesanan Rp. 100.000 berubah menjadi Rp. 110.000 karena dikenakan pajak 10%. Dengan berat hati, saya harus mengorbankan Sultan Mahmud Badaruddin. 


uang, sepuluh ribu, rupiah, terbaruMaafkan aku, Sultan! :(

Rupanya kebiasaan makan di Warteg Salero Bundo sulit dihilangkan saudara-saudara sekalian.