Aturan Sepakbola Anak yang Harus Kamu Ketahui

"Oper rene, Lang!"
"Nendange alon wae!"
"Oper!"
"Oper!"
"Oper!"

"GOOAL!"

Saya bergegas keluar rumah untuk mencari sumber keriuhan tersebut. Tak jauh, tampak sekitar 8 orang anak sedang berjibaku demi memenangkan pertandingan sepakbola mini tanpa wasit tersebut.

Bukan, mereka bukan Garuda Kekar FC. Mereka adalah kumpulan anak-anak yang sedang menghabiskan sore dengan bermain sepakbola bersama teman sepermainan. 

Mereka tampak sangat menikmati permainan ini.

Hal ini mengingatkan ketika saya masih seusia mereka. Hampir setiap sore saya tak pernah melewatkan satu pun pertandingan sepakbola yang aturannya menyimpang jauh dari regulasi FIFA ini.

Apa aja sih aturannya?


- Ukuran Lapangan
Ukuran lapangan sangat variatif, tergantung tanah lapang (biasanya area kosong depan rumah) siapa yang diijinkan pemilik untuk bermain. Tak ada rumput yang tumbuh sehingga debu mengepul setiap kali tanah dipijak. 

Resiko terkena TBC sudah bisa diprediksi sejak awal.

- Jumlah Pemain
Tak ada istilah kesebelasan di sini, karena jumlah pemain tak pernah mencapai 11 orang setiap tim. Malah sering juga jumlah pemain hanya 3 orang saja per tim. Kalau sudah begini, biasanya langsung diadakan adu penalti.

Yang jadi kiper siapa? Tentu anak yang paling gemuk.

- Lebar Gawang
Lebar gawang berkisar antara 15-20 kaki. Kaki di sini bukan satuan seperti yang digunakan di Britania Raya (1 kaki = 30.48cm), melainkan kaki si pemain. Sandal atau batu diletakkan di tanah sebagai tanda lebar gawang. Tanpa tiang apalagi mistar gawang.

Gol dari bola atas hanya berlaku jika bola masih dalam jangkauan kiper. Jadi skill placing (atau chip) bola yang kamu kuasai akan sia-sia di sini.

- Waktu
Banyak faktor yang menentukan lamanya waktu pertandingan. Pertandingan akan berakhir apabila bola pecah (karena menggunakan bola plastik), adzan maghrib sudah berkumandang, sampai yang paling ngeselin adalah yang punya bola disuruh pulang oleh emaknya.


Ada yang mau menambahkan? Ada yang rindu dengan masa itu? Atau ada yang tidak mengalami?

Gitu ya, hanya dengan mengingat masa-masa ketika masalah terbesar hayalah belum mengerjakan PR saja, seringkali membuat kita tersenyum bahagia.