Kisah Perjalanan Lintas Galaksi (Baca: ke Bekasi)

Hari Selasa kemarin, saya kembali mengarungi kota yang sering dianggap lebih jauh daripada Bandung (oleh warga Jakarta) ini dengan niat sangat mulia: mencari ridho Allah alias bekerja dengan niat ibadah... dan mencari uang. Ya, saya ada jadwal interview dari salah satu perusahaan Jepang di Kawasan Industri Jababeka.

Bekasi bukan kota yang asing bagi saya. Saya sempat bekerja di sana selama 9 bulan di Kawasan Industri MM 2100 di PT. Astra Honda Motor. Bekerja selama sembilan bulan karena sebelumnya ditempatkan di Jakarta. Atau dengan kata lain, saya dan banyak karyawan kontrak lain menjadi korban mutasi (bukan mutilasi) untuk menghabiskan sisa kontrak dengan cara dipindahkan ke Bekasi.

Summarecon Bekasi, simbol modern Bekasi
Di Bekasi ada beginian, lho.

Saya bersyukur sekaligus agak mengeluh karena jadwal interview adalah jam 1 siang. Bersyukur karena tak perlu bangun dan berangkat pagi-pagi sekali. Agak mengeluh karena harus bermacet ria di bawah teriknya matahari Bekasi. Di GPS saya lihat jaraknya sekitar 70 km dari rumah, saya pikir 4 jam perjalanan dengan kecepatan rata-rata paling lambat 20 km/jam sudah sangat cukup untuk mencapai lokasi tersebut. Asumsi ini bukan tanpa dasar.
Berdasarkan rumus kecepatan v = s/t, dimana v adalah kecepatan per satuan waktu (m/s), s adalah jarak (m) dan t adalah waktu (s), sehingga:
v = 20km/jam = 5.56 m/s
s = 70 km = 70 000 m
t = 4 jam = 14 400 s
Sehingga t dapat dihitung t = s/v = 70 000/5.56 = 12 589.93 s = 3.49 jam atau 3 jam 29.4 menit. Dengan anggaran waktu 4 jam, maka ketika sampai di lokasi masih ada waktu sekitar setengah jam untuk aktivitas lain (misalnya istirahat, makan, shalat atau kesasar).
Nyatanya, saya masih terlambat sampai di lokasi. Ini tak lain karena kemacetan yang sungguh sangat tak bensiniawi.

Terlambat setengah jam lebih membuat saya agak ragu untuk menemui HRD. Sikap resepsionis lah yang akhirnya menghilangkan keraguan itu. Bahasa tubuh beliau seolah-olah menyambut kedatangan saya, padahal saya tak pernah belajar bahasa tubuh. Naluri manusia kali, ya?

Setelah menyerahkan kartu identitas dan mengisi buku tamu, saya langsung menemui HRD di lantai 2.

Ini pertama kali saya diinterview oleh orang asing yang tak bisa berbahasa Indonesia (selain "terima kasih" dan "silahkan tunggu"). Apakah interview berlangsung dengan bahasa Inggris? O tentu tidak. Beliau menggunakan penerjemah, sebuah hal yang membuat saya lega karena tak perlu berpikir keras untuk berbicara dengan bahasa Inggris.

Pertanyaan interview hanya seputar kehidupan pribadi dan pengalaman kerja. Saya bersyukur karena tak menjumpai pertanyaan pengalaman berorganisasi, karena pengalaman berorganisasi saya sangat minim. Hingga akhirnya terjadi dialog semacam ini:

   "Apa mata kuliah favorit kamu?"
   "Engg..."
   "Yang paling kamu suka, deh."
   "Kalkulus, Pak."

Sebuah jawaban reflek yang sangat ngawur, karena nilai Kalkulus di Transkrip Nilai adalah 'C'. Entah kenapa saya menjawab Kalkulus, padahal masih ada seratusan mata kuliah lain yang sebenarnya lebih saya kuasai. Mungkin di sini lah peran mental diperlukan.

Proses interview tak lebih dari setengah jam. Ironis sekali jika dibandingkan dengan waktu di perjalanan yang mencapai 4 jam. Beruntung, mereka memberi saya (dan 5 peserta interview lainnya) uang untuk transportasi. Tak banyak, tapi cukup lah untuk beli Bakmi sebagai pengganjal perut. Saya belum pernah menjumpai hal seperti ini di perusahaan lain.

Selanjutnya, saya bersiap-siap untuk perjalanan pulang. Perjalanan yang sepertinya mampu membuat pantat menjadi sixpack.

Ya begitulah, semoga saya mendapatkan hasil yang terbaik.

Oya teman-teman, ayah saya masuk rumah sakit sejak hari Selasa yang lalu. Tepat ketika saya sedang proses interview. Mohon doanya agar beliau lekas sembuh.

Terima kasih.