Kisah Arip dan Pak Polisi

via gustavharefa.wordpress.com

"Waktu adalah uang. Jadi, kalau ada orang bilang sedang sibuk tidak punya waktu, yang sebenarnya terjadi adalah tidak punya uang."

Entah siapa yang bikin quote semacam itu, tapi ada benernya juga, sih.
---

Saya punya teman, namanya Arip. Nama aslinya Arif. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia membuat nama panggilan seenaknya. Selain Arif dipanggil Arip, ada juga Rosa dipanggil Ocha, Rahmat dipanggil Mamat, Renggo dipanggil Ganteng. Bahkan, politikus sekelas Aburizal Bakrie pun juga punya nama imut; Ical.

Arip adalah tipikal orang yang kurang suka memakai jam tangan. Mubadzir katanya. Karena hampir setiap detik, pandangannya tak pernah lepas dari layar hape. Artinya dia bisa setiap saat melihat perubahan waktu tanpa harus melihat jam tangan. Maklum, Arip ini anak medsos garis keras. Tidak membuka Twitter satu menit saja, dia mengaku merasa seperti dicincang, direbus, lalu ditiriskan. 

Hal ini seringkali membuatnya harus mengambil hape dari saku celana ketika sedang mengendarai sepeda motor di jalan raya untuk melihat waktu.

Minggu kemarin, Arip mengikuti Ujian Agak Serius alias UAS. Di hari pertama UAS, Arip telat bangun, sehingga memaksanya untuk tidak mandi.

Di tengah perjalanan menuju kampus, Arip bermaksud melihat jam di hape miliknya, untuk memastikan apakah ujian sudah dimulai atau belum. Tanpa kesulitan berarti, hape buatan China itu sudah ada di genggaman. 'Masih 10 menit lagi,' pikirnya.

Belum sempat memasukkan hape ke kantong celana, di depan ternyata sedang ada razia kendaraan bermotor.

Arip pun diberhentikan.

   "Selamat pagi mas, boleh lihat surat-suratnya?" kata pak polisi setelah sebelumnya melakukan gerakan hormat.

   "Ini, pak." Arip menyerahkan STNK dan surat ijin yang berbentuk kartu alias SIM.

   "Mas tau kesalahannya apa?!" seru pak polisi.

   "Engg.. nganu, pak," Arip kebingungan.

   "Begini, mas, tadi saya lihat mas sedang main hape. Tindakan mas ini sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan, serta keselamatan mas sendiri."

   "Silahkan ikut saya ke pos dulu," lanjutnya.

   "Tapi, pak, saya tadi cuma lihat jam aja, kok. Saya lagi UAS pak, udah telat, nih. Jangan lama-lama, ya."

Firasat buruk menghantui Arip. Dia pun lemas, letih, lesu, bibir pecah-pecah, lalu pasrah untuk menandatangani surat tilang.

   "Kamu ini mahasiswa, kaum intelek generasi penerus bangsa. Apa nggak tau kalau di dunia ini ada yang namanya jam tangan?!"

   "Tau, pak."

  "Trus, kenapa nggak beli? Kenapa justru memilih tindakan berbahaya seperti ini?!"

  "Engg... gini, pak. Di hape kan udah ada jam. Males aja kalau harus beli jam tangan lagi." Arip mencoba untuk berkelit.

Pak polisi hanya bisa geleng-geleng kepala kemudian berkata, "Kamu ini, beli jam tangan aja males. Gimana nanti beli cincin kawin?!"

   "Gini aja, deh. Kali ini kamu saya kasih toleransi." lanjutnya.

   "Maksudnya, pak?" Arip kebingungan lagi.

   "Kamu tidak saya tilang. Tapi, tolong, kamu beli jam tangan, ya. Biar tidak perlu main hape di jalan. Ini bahaya, lho!"

   "Beli yang bagus, ya!"

  "Yang bagus beli di mana, Pak?"

  "Coba kamu cek Zalora!"

  "Siap, Pak!"

Arip pun 'dibebaskan', kemudian melanjutkan perjalanan menuju kampus.

Telat sepuluh menit membuat Arip cukup terganggu mengerjakan soal-soal UAS. Tapi, berkat skill mencontek mumpuni, Arip bisa mengerjakan soal tersebut dengan mudah.

Setelah ujian selesai, Arip pun segera searching di Zalora -sesuai instruksi pak polisi- menggunakan kata kunci "jam tangan cowok macho". Tak lama, Arip mendapati sebuah landing page Jam tangan Casio. Merasa yakin dengan apa yang dicari sudah ditemukan, dia pun segera melakukan transaksi.

Jam Tangan Casio di Zalora

Mengutip website Zalora, Zalora adalah online shop terbesar di Asia Tenggara. Merupakan pusat belanja fashion online yang menyediakan produk-produk fashion terbaru dengan banyak pilihan bagi pria dan wanita. 

Website Zalora yang responsive