Mitos Motor Injeksi

Hari Sabtu kemarin, saya pergi ke kondangan bareng seorang wanita yang spesial. Wanita yang sangat saya sayangi, begitu pun sebaliknya. Karena saya yakin tak ada ibu yang tidak menyayangi darah dagingnya sendiri, hehe.
Karena jarak dari rumah cukup jauh, kami terpaksa menggunakan sepeda motor.

Beberapa kali saya coba nyalakan, motor tak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Hingga akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa akinya tekor alias rusak, sesuai pengalaman yang dulu pernah saya alami.

Singkat cerita, kami sudah sampai di tempat undangan. Setelah bersalaman, kami langsung makan. Selesai makan, kami langsung pulang. Hehehehehe.

Sampai di rumah saya masih penasaran perihal rewelnya si motor. Identifikasi awal adalah aki tekor, karena menurut pelajaran PPKN dulu, faktor hidup tidaknya motor injeksi sangat tergantung oleh suplai aki.

Sistem injeksi via arieslife.wordpress.com

Dengan menggunakan wearpack, sepatu safety dan toolbox di tangan, saya bersiap-siap untuk... memeriksa aki.

Melihat sesuatu kurang beres terjadi pada anak lanang-nya, ibu coba menegur, "Motore kenapa, Le? Mbok didelok bensine sik. Paling entek lho. (terjemahan: Motornya kenapa anakku yang ganteng? Coba dilihat dulu bensinnya. Kali aja abis)."

Ternyata bener, bensinnya emang abis. Gini nih, kalau panel indikator bahan bakar rusak. Sesuatu yang seharusnya sederhana menjadi rumit begini. Bukan tidak mau beli speedometer baru, saya masih menunggu waktu yang tepat aja, waktu udah punya uang, hehe. Soalnya pernah nanya, harganya 500 ribu lebih. Gile.

Nah, mitosnya adalah motor injeksi akan susah dinyalakan kalau sampai kehabisan bahan bakar. Istilah umumnya sih, masuk angin. Agar bisa nyala kembali, harus di-bleeding terlebih dahulu. Ribet lah pokoknya.

Ternyata eh ternyata, itu sama sekali tidak benar, karena saya sudah membuktikan sendiri. Setelah motor berwarna merah itu saya isi pertamax plus (gaya bet), tunggu beberapa saat sampai pompa bahan bakar bekerja, motor langsung bisa dinyalakan.

Asal usul mitos ini berasal dari kendaraan bermesin diesel, yang mana semua mesin diesel menggunakan sistem injeksi. Nah, pada mesin diesel (jaman dulu) tersebut memang tidak bisa dinyalakan apabila sempat kehabisan bahan bakar sebelum di-bleeding.

Yang jadi pertanyaan adalah siapa yang menyebarkan mitos dengan dasar cocoklogi ini?