Manfaat Tersembunyi Pisang yang Harus Kamu Tahu

Udah ada yang nonton Film Comic 8 bagian dua? Kalau baca-baca review-nya, kayaknya kurang menarik, ye? Di film pertama (yang ceritanya tentang ngerampok bank), saya ngerasa jadi korban marketing, haha. Trailer-nya doang bagus.

Dan kayaknya Casino King part 1 dan part 2 sama aja. Makanya nggak berniat nonton kedua film ini.
--

Anyway, seminggu yang lalu saya kena tilang. Ini pengalaman ke empat berurusan dengan institusi negara yang tugasnya Protect and Serve ini.

Pengalaman pertama ditilang sekitar tahun 2009 di Bundaran Hotel Indonesia. Waktu itu belum ada larangan sepeda motor melintas di Jl. Merdeka Barat sampai Jl. Jend. Sudirman. Lupa waktu itu mau ngapain + ke mana. Tau-tau udah di situ aja. Karena belum paham jalan dan takut nyasar, akhirnya saya muter balik ke arah Monas di bundaran tersebut. Tiba-tiba seorang polisi mendekat sambil nunjuk-nunjuk memberikan isyarat agar berhenti di pinggir jalan.

Setelah melalui dialog standar antara polisi dan pengendara motor yang melanggar aturan, akhirnya saya diminta ke pos polisi terdekat. Kata beliau (ya ampun, sopan banget pakai 'beliau'), saya ngelanggar aturan karena motor nggak boleh muter di bundaran itu. Intinya, sih, harus bayar Rp 200.000 di persidangan nanti.

Fyuh.

Mungkin karena melihat saya masih cupu, akhirnya pak polisi tersebut "menawarkan bantuan" dengan syarat saya harus membayar sekian ratus ribu.

Setelah melalui proses musyawarah mufakat singkat, akhirnya disepakati besaran uang yang harus saya keluarkan.

Untuk ukuran pengangguran lumayan, sih, Rp 50.000.


Yang ke dua terjadi di Jl. Kalimalang, Bekasi.
Kamu pernah nggak, sih, menjumpai momen di mana kamu bingung harus berhenti atau tetap jalan waktu lampu lalu lintas berubah dari kuning menjadi merah? Saya pernah. Waktu itu saya ragu karena laju motor lumayan kenceng. Pengen berhenti, tapi takut ditabrak dari belakang. Kalau jalan terus, berarti melanggar aturan.

Akhirnya saya memutuskan untuk jalan terus. Sialnya, di depan ada polisi yang sudah mengendap-endap menunggu mangsa. Persis seperti macan kelaparan menemukan tapir gemuk karena menderita obesitas.

Sama seperti kasus pertama, kali ini berakhir dengan uang damai. Anehnya, polisi tersebut nggak mau saya ajak bersalaman. Mungkin karena beliau ngerasa bersalah juga kali, ya? Hehehe.


Yang ke tiga, hampir masuk pintu tol.
Saya sering melamun waktu naik motor di jalan. Akibatnya, sering salah jalan. Misal di perempatan, harusnya belok kiri, tapi malah lurus. Harusnya lurus, tapi malah belok kiri, masuk ke pintu tol seperti kasus ini.

Menyadari hal ini, saya berniat putar balik, tapi tiba-tiba udah ada polisi aja, hahaha. Nggak bisa kabur, deh.

Karena cuma berdua aja, negosiasi bisa dilakuin dengan mudah. Kalau di kasus pertama pak polisi nggak mau berjabat tangan, di kasus ini, pak polisi nggak mau nerima uang secara langsung. Dia minta uangnya dimasukin ke buku yang dia pegang.

   "Berapa (uang yang kamu kasih)?" tanyanya.
   "Tiga puluh ribu, pak." saya jawab mantap.
   "Apa-apaan tiga puluh ribu? Kamu saya tilang aja, deh!"
   "Jangan, pak. Saya tambahin, deh. Uangnya saya tuker, yang itu saya ambil." jawab saya sambil nunjuk ke arah buku.

Saya ambil lagi uang yang di buku, kemudian saya masukin ke kantong celana. Sambil membelakangi si polisi, saya ngambil uang di dompet, kemudian masukin lagi ke buku tilang. Di sini, pak polisi taunya uang udah ditambah. Padahal saya kurangin jadi Rp. 20.000.

Perasaan saya bercampur antara senang dan sedih. Senang karena cuma keluar uang Rp. 20.000, sedih karena telah melakukan tindak pidana penyuapan dan berbohong soal nominal uang.

Saya pun dijinkan jalan kembali, sambil berharap semoga beliau nggak misuh-misuh ketika tau berapa uang yang saya kasih, heheh.


Yang ke empat (semoga menjadi yang terakhir) terjadi seminggu yang lalu.
Ceritanya kemarin abis beli pisang. Karena tempatnya kurang strategis (maksudnya kalau mau balik lagi muternya jauh), saya terpaksa puter balik di putaran terdekat, melawan arus. Karena udah kebiasaan gitu, dan nggak pernah lihat ada razia, saya jalan sambil cengengesan tanpa rasa khawatir.

Sampai di seberang jalan, seorang polantas menampakkan diri dengan perut gendutnya. Sial.

Berbeda dengan kasus sebelumnya, kali ini saya bisa menghadapi dengan lebih tenang dan lebih ganteng.

Saya sengaja menunggu beliau untuk menawarkan bantuan kembali. Seperti biasa, di awal melancarkan ancaman masalah ini harus diselesaikan melalui persidangan dengan membayar denda sekian ratus ribu rupiah.

Beliau sempat menanyakan pilih SIM atau STNK yang akan ditilang. Saya jawab pilih STNK. Tapi, nggak lama beliau menawarkan bantuan. Persis seperti dugaan sebelumnya.

Beruntung, karena uang kembalian beli pisang masih cukup untuk membayar bantuan pak polisi. Seandainya ngga beli pisang, mungkin harus mengeluarkan uang lebih banyak, soalnya lagi nggak ada uang kecil. Kebetulan uang yang ada di dompet pecahan Rp 200.000 semua.

By the way, terima kasih, pisang!

Menikmati Pisang. Wanita makan Pisang.
Cara menikmati pisang yang baik dan benar -via popular-world.com