"Sabtu Bersama Bapak" Film Adaptasi dari Novel?

Film-film Indonesia lumayan banyak yang dirilis pada lebaran tahun ini. Ada Rudy Habibie, ILY From 38000 FT, Koala Kumal, Jilbab Traveler, dan Sabtu Bersama Bapak. Nah, kemarin saya baru aja nonton yang terakhir disebut.

Walaupun judulnya mengandung kata "Sabtu", hal ini tak lantas mempengaruhi alam bawah sadar untuk menyaksikan film ini pada hari yang sama. Hari itu, Rabu (6/7/16), saya mengajak serta kedua orang tua untuk menonton film (yang trailernya aja sempat jadi trending topic di twitter) ini dalam rangka libur lebaran.

Ini pertama kali saya nonton film bareng orang tua. Sempat timbul rasa khawatir mereka bakal kurang menikmati film ini sebenarnya, hehe.

Poster Sabtu Bersama Bapak, Tiket Sabtu Bersama Bapak
Sabtu Bersama Bapak - trivia.id

Tempat beruntung yang kami datangi adalah Blitz Theater Grand Dadap City, Tangerang, dengan pertimbangan utama jarak paling dekat dari rumah, serta tiket murah meriah. Meski dekat, ternyata kami masih telat-telat juga.

Hal yang sedari awal sempat saya khawatirkan benar-benar terjadi wahai pembaca yang budiman dan budiwati. Sepanjang film diputar, ayah terlihat sangat tidak nyaman. Bukan karena cerita film kurang menarik atau bioskopnya yang bapuk, tapi kondisi fisik lah (beliau sedang menderita TBC tulang) penyebabnya.

Sempat dipaksa bertahan, mungkin belasan menit, tapi akhirnya beliau memutuskan untuk meninggalkan bioskop lebih dulu bersama ibu karena nggak kuat menahan sakit, tepat pada adegan Cakra gugup sewaktu presentasi karena kehadiran seorang wanita bernama Ayu (yang dalam novel diceritakan berakhir menjadi istrinya). Tak lama setelah itu saya pun menyusul ke luar.

Sampai pada adegan ini, saya nggak melihat perbedaan berarti cerita pada novel dan film. Saya nggak tau apakah adaptasi film dari novel seperti itu. Saya ngerasa seperti mengulang cerita yang sama, namun pada medium yang berbeda. Jika baca novel saya harus berimajinasi, maka ketika nonton film saya cuma perlu duduk dan memperhatikan.

Eh, tapi belum tau sih lanjutannya gimana, apakah masih sama seperti cerita di novel apa nggak. Rencananya sih, nanti mau nonton lagi biar nggak penasaran. Penasaran berapa kali lagi Satya (Arifin Putra) nyium bibir Rissa (Acha Septriasa). Menang banyak, tuh.

Ini apa deh, bukannya bahas isi film malah ngomongin ciuman?!