Jumat di Masjid "Merdeka"

“Makanya mak, jangan pilih Jokowi. Sekarang kita sendiri kan yang susah? Dulu mah enak, jualan di Monas aja kagak ada yang ngusir. Sekarang, jualan kopi di masjid gini masih harus main kucing-kucingan sama petugas keamanan.”

“Emak mah, dulu golput, nggak milih siapa-siapa.”

“Ya gini deh, kalo punya pemimpin kafir. Ahok kan kafir!”

--

Siang itu, usai shalat Jumat, saya bergegas meninggalkan masjid karena tidak menemukan tempat untuk mengisi baterai HP (syukur-syukur bisa sambil tiduran) di dalam, hehe.  Tak disangka, ternyata di luar ada tempat khusus untuk ngecas. Di sana lah saya mendengar percakapan antara 3 pedagang asongan di atas, setelah sebelumnya memesan kopi dari salah satu pedagang tersebut.

Tempat Isi Ulang Baterai di Masjid Istiqlal
Surganya pemburu colokan

Ini pertama kali saya ke masjid Istiqlal. Masjid yang berarti “merdeka” ini saya datangi dengan tujuan untuk shalat Jumat. Bukan riya’, ini karena saya tidak tahu ingin menulis apa lagi di blog ini, hehe.

Saya tiba pukul 11 lebih, jumlah sepeda motor di parkiran masih sangat sedikit. Saya pikir sistem parkir sudah menggunakan sistem parkir elektronik, ternyata tidak. Ini sedikit menimbulkan kecemasan pada keamanan motor, karena tidak ada pemeriksaan STNK sebelum meninggalkan area masjid. Tapi ada enaknya juga sih, mau berapa lama parkir di situ, bayarnya (lebih tepat disebut infaq, seperti yang tertulis di karcis) tetap sama, Rp. 2000.

Sepanjang jalan dari parkiran ke pintu masuk masjid, banyak sekali orang menawarkan plastik pembungkus alas kaki. “Seikhlasnya,” jawab si penjual ketika saya tanya berapa saya harus bayar. Pengurus masjid mewajibkan pengunjung untuk menitipkan alas kaki (tidak harus dibungkus plastik) dan barang bawaan di tempat penempatan barang. Tapi masih banyak juga yang membawa tas ke dalam.

Tema khutbah kala itu adalah tentang Hari Qurban. Sebelum khutbah dimulai, saya sempat memperhatikan orang-orang sekitar. Daya tarik arsitektur masjid ini ternyata mampu membuat bapak-bapak berkumis serta berjenggot untuk berselfie ria dengan latar belakang bagian dalam kubah masjid yang disorot lampu dengan berbagai warna dan arah.

Selama khutbah berlangsung, saya kurang memperhatikan kata-kata dari khatib, karena memang cara menyampaikannya tidak menarik. Rasanya seperti mendengarkan orang membaca buku yang kurang menguasai penggunaan tanda baca. Agak menjemukan.

Usai shalat Jumat, para jamaah dihimbau agar tidak meninggalkan tempat terlebih dahulu untuk menyaksikan penyerahan hewan kurban secara simbolis dari sebuah yayasan dari Turki kepada pengurus masjid Istiqlal. Sebagai pria yang sebulan terakhir punya waktu luang lebih banyak dari biasanya, saya pun menyaksikan prosesi ini.

Dari kejauhan, saya melihat kilat lampu handphone dan kamera profesional menghujani perwakilan yayasan dan pengurus masjid tersebut dari berbagai penjuru. Untuk beberapa saat, orang-orang dari Turki itu mungkin merasa seperti selebritas, hehe. Kenapa ya kebanyakan orang Indonesia suka sekali mengabadikan apa saja yang dilihatnya? Hmm.

Tak lama, saya meninggalkan masjid berkapasitas 120.000 jamaah yang diarsiteki oleh Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan (Wikipedia), untuk mencari tempat untuk mengisi baterai handphone.

renggo pranoto, renggo starr
NO PICT = HOAX

10 komentar

waah keknya tampilan blognya baru nih.
aih masjid istiqlal, jadi pingin lagi kesitu.
kirain obrolanya itu obrolanmu, eh ternyata bukan.

Eh tapi, kok fotonya... mencurigakan ya? Macam tempelan. Semoga cuma perasaanku saja.

Bener, Istiqlal ini sangat potensial buat diambil gambarnya. Dulu sempet sih bikin video liputan ke situ buat tugas sekolah. Hahaha. :))

wkakakak no pict hoax,,,iya deh iyaaa ga hoaxxxx..

harusnya lo abadikan juga biar ada bukti orang turki nya hahah atau jangan jangan yang pada foto foto in orang turki itu mereka pada blogger semua haha

Iya, baru. Ehehe
Ya udah ke situ besok

Itu perasaan dek Robby aja

Kemarin mau bikin timelapse, tapi batre keburu abis

Ada yang aneh dengan fotonya, Hehehe...

Menarik :D

Khatib seperti sudah tidak seperti membaca buku dalam berkhutbah ya, Mas, sehingga pas tengah siang, di tengah istirahat kerja, jadinya ga ngantuk :)

Pilih 'Anonymous' atau 'Name/URL' di 'Comment as' jika profil untuk berkomentar tidak ada. Terima kasih telah meninggalkan komentar.
EmoticonEmoticon