Ngomongin Pengendara Sepeda Motor

Saya pertama belajar naik (lebih tepatnya mengendarai) sepeda motor pada awal-awal masuk SMP. Motor yang saya gunakan waktu itu adalah Suzuki Shogun keluaran 1996, motor plat B milik adiknya ibu yang waktu itu dibawa pulang kampung ketika lebaran.

Berbekal skill mengendarai sepeda yang sudah saya kuasai sejak 5 tahun sebelumnya, saya tak mendapat kesulitan berarti menaklukkan sepeda motor jenis bebek berwarna ungu tersebut.

Pokoke pas angkatan opo dalan nanjak nganggo gigi siji, nek wis mlaku gigine tambahen.” kurang lebih begitu tips dari trainer sekaligus pemilik motor kala itu.

Belum sampai seminggu berlatih, saya harus menghadapi kenyataan bahwa motor tersebut dibawa balik ke Jakarta. Kegiatan keliling dunia menggunakan sepeda motor pada akhir tahun pun terpaksa saya coret dari agenda tahunan kala itu, hehe.

Ngomong-ngomong, motor berumur 20an tahun itu masih ada sampai sekarang. Setiap hari dipakai bolak-balik dari rumah ke kantor.

Suzuki Shogun 1996, Shogun Ungu, Shogun Lawas
Tipe Sepeda Motor yang Dimaksud

Dua tahun kemudian, ayah membelikan kami (saya dan kakak perempuan) satu unit sepeda motor. Sepeda motor bebek yang sampai sekarang masih ada. Dengan motor ini lah saya benar-benar bisa mengendarai motor. Karena dengan motor ini, akhirnya saya mendapatkan surat yang secara fisik berbentuk kartu. Orang-orang sih nyebutnya SIM, alias Surat Izin Mengemudi.

Dengan memiliki SIM, secara hukum, seseorang sudah dianggap bisa mengendarai kendaraan bermotor. Setuju?

Sekarang, saya tinggal di Jakarta. Mau tidak mau, saya jadi tahu perbedaan perilaku pengendara motor di Jakarta dengan daerah asal saya, Wonogiri. Pengendara motor di Wonogiri cenderung nurut dan sabar (karena memang tidak ada macet), serta selalu berhenti di belakang garis stop ketika lampu merah. Karena melanggar sedikit saja, kemungkinan besar akan kena tilang. Sedangkan di Jakarta terjadi hal sebaliknya. Jangankan behenti di belakang garis stop, di trotoar saja banyak motor bersliweran.

Selain sering melanggar aturan, ada juga tipe pengendara motor yang cukup ngeselin seperti:
  • Membunyikan klakson sambil teriak-teriak di tengah kemacetan.
  • Nyetut (saya tidak tahu istilah lain dari Nyetut) sampai senghabiskan setengah jalan.
  • Ngebut di kegelapan malam tapi lampu tidak dinyalakan.
  • Menyalakan lampu sein ke kiri, yang bonceng melambai-melambai kanan atau sebaliknya.
  • Sepanjang jalan ngobrol dengan pengendara lain

Poin terakhir paling ngeselin, sih. Apalagi jika pelakunya anak sekolah, pakai jaket lusuh, tanpa helm pula. Mbok ya minggir dulu to, dek. Ngobrol di warung kopi sambil udud kan enak.

Tapi kadang saya mikir, jangan-jangan saya dulu juga begitu, haha.

Ada yang mau menambahkan?