Hangout Bareng Ponakannya Om

“Saya ulangi; tiga tiket, bangku B8, B9, dan B10.”

“Iya, bener.”

“Jadi totalnya Rp 75.000, pak.”

Kuambil selembar uang bergambar bapak proklamator RI dari dompet, terima kembalian, lalu meninggalkan mbak-mbak Blitz dengan sedikit kesal karena dipanggil ‘pak’.

Kami datang 15 menit sebelum film diputar, tetapi masih dapat bangku yang cukup strategis. Strategis di sini tergantung niat nontonnya, ya. Kalau niat ke bioskop justru mau bikin film, biasanya sengaja memilih di tempat strategis lain.

Saya bersyukur ada bioskop dekat rumah yang bisa-dibilang-murah dan tak pernah antri panjang, bahkan pada pemutaran karya Raditya Dika seperti ini. Di tempat lain kayaknya antrinya sadis. Kalau pun nggak ngantri, bakalan susah dapet bangku yang enak.

Saya nonton bareng dua keponakan yang kebetulan sedang libur sekolah. Film Hangout sepertinya cocok untuk menghibur dua  anak di bawah umur ini, karena saya yakin tidak ada adegan ciuman di film terbaru dari film yang ditulis, disutradarai dan dibintangi oleh Radit (antara multitalenta atau maruk) sendiri ini.

Foto keponakan 3 tahun yang lalu

Hangout bercerita tentang sekumpulan aktor dan aktris (orangnya siapa aja, liat gambar di bawah) yang mendapatkan undangan dari seseorang yang misterius ke sebuah pulau untuk membicarakan sebuah proyek. Rupanya, orang misterius yang mengundang tersebut mempunyai niat jahat untuk membunuh mereka satu per satu dari mereka.

Aktor dan aktris papan atas pemeran Film Hangout

Nah, siapa sih orang misterius yang menjadi pembunuh ini? Apakah salah satu dari mereka? Apakah orang di pojok kanan bawah? Nonton deh, ya biar tahu.

Sepanjang pemutaran film, saya sering mendengar banyak penonton tertawa, termasuk dua keponakan di bawah umur saya. Saya juga ikut tertawa sih, walau tak sesering penonton lain. Mungkin karena saya kebanyakan nonton acara komedi kali, ya?

Oya, saya juga sempat ikut menebak-nebak siapa pembunuhnya, walau tak terlalu excited. Dan tebakan saya salah, haha.

Dan seperti film-film karya Radit yang lain, film yang semua pemerannya menggunakan nama asli (atau nama panggung) ini juga mempunyai pesan positif. Kalau boleh pinjam istilah dari Mario Teguh, film ini menyampaikan pesan yang super!

Wajah sumringah dari kedua keponakan setelah film usai menandakan bahwa mereka suka film ini. Syukurlah.

Es cappuchino cincau pinggir jalan mengakhiri hangout antara om dan keponakannya. Tadinya berencana mengajak mereka lagi untuk nonton CST Movie-nya Ernest, sayang mereka pulang kampung duluan. Om jadi sepi, nih.

Ada yang mau om pangku ajak nonton lagi?