Dikerjain Bapak-bapak

Tak ada yang aneh dengan Sabtu sore kala itu. Anak-anak bermain bola seperti biasa, bapak-bapak bersarung berkumpul di pos, dan saya masih saja bingung akan melewati malam minggu dengan acara apa.

Di tengah ketidakpastian nasib malam minggu ini, tiba-tiba datang sebuah kabar yang dinilai cukup untuk dijadikan alasan kuat kenapa tidak perlu malam mingguan keluar rumah, yaitu mendapat undangan untuk menghadiri syukuran atas kedatangan umrah kemarin. ‘Alhamdulillah, bakal dapat berkat,’ batinku.

Selesai shalat maghrib, aku bersiap-siap menuju lokasi. Dan seperti biasa, aku selalu mengenakan busana religi minimalis (sarung, kemeja, tanpa kopiah) untuk acara-acara semacam ini.

Sampai di lokasi, ternyata sudah ada beberapa orang yang hadir terlebih dahulu. Tampak terlihat tuan rumah (yang baru saja pulang umrah) sedang asik memperlihatkan video rekaman selama di tanah suci kepada bapak-bapak lain. Semoga video yang saya duga berformat .3gp tersebut memotivasi bapak-bapak serta calon bapak lain yang menghadiri acara syukuran ini.

Oya, mungkin kamu kurang setuju mengenai dugaan format video .3gp di atas. “Kok kayak format video esek-esek, sih?” begitu kira-kira pertanyaan yang muncul di pikiranmu. Saya sempat melihat sekilas video rekaman tersebut. Gambar yang dihasilkan terlihat agak pecah, kualitas suara yang dihasilkan pun terdengar jauh di bawah file .mp3 standar. Analisa ecek-ecek ini cukup membuat saya menarik kesimpulan bahwa format video tersebut bukan .mp4, melainkan .3gp.

Ini ngomongin apa, sih..

Skip-skip-skip.

Setelah acara do’a bareng selesai, makanan ringan dan buah pun dikeluarkan dari dapur yang dibagikan secara estafet. Tak lama, hidangan utama berupa soto ayam ikut dikeluarkan. Di luar dugaan, ternyata makanan dimakan langsung di situ, aku pikir makannya dibawa pulang sebagai berkat. Ternyata acara syukuran umrah begini, toh.

Aku mendapat giliran pertama mengambil nasi, karena kebetulan posisi dudukku paling dekat dengan nasi. Ah, beruntungnya. Aku memakannya dengan lahap. Cita rasa soto ini tak kalah dengan soto berlabel Soto Lamongan yang biasa ku beli di pinggir jalan.

Saking asiknya makan, aku tak menyadari jika ternyata aku satu-satunya orang yang makan di situ. Hal ini aku sadari ketika nasi baru habis setengah, lalu bapak-bapak lain berpamitan pulang dengan kompaknya.

Ini gimana nasib nasi gue Ya Allah Tuhan YME?!


Tangisan Sedih
Ini bukan fotoku, btw.