Akumulasi


Sepertinya salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil adalah mengganti ban sepeda motor dengan ban tipe tubeless. Sebelum menggunakan tipe ban tanpa ban dalam ini, minimal sebulan 3 kali (niat banget diitungin), saya harus mampir di tempat tukang tambal ban. Jika beruntung, saya hanya perlu mengeluarkan uang 10-12 ribu rupiah untuk biaya tambal, kalau kurang beruntung, minimal 50 ribu rupiah seperti hilang sia-sia untuk biaya penggantian ban dalam.

Khusus tipe motor yang saya gunakan, biasanya kang tambal ban mematok harga 20-30% lebih mahal ketika harus mengganti ban dalam. Mereka berdalih jika melepas ban dalam Vario 125 ribet dan menghabiskan banyak waktu. Kamu mungkin akan memakluminya jika tahu betapa rumitnya konstruksi roda belakang pada Vario 125 bagi kang tambal ban.

Salah satu kelebihan umum ban tubeless yang sudah banyak diketahui orang adalah apabila terkena paku, ban tidak akan langsung kehabisan tekanan udara. Jadi sang empunya motor masih ‘diberi kesempatan’ untuk mencari kang tambal ban terdekat.

Malah, kalau ban diberi cairan (saya tidak tahu cairan apa, yang jelas bukan cairan cinta), ban ini bisa dibilang ‘menambal dirinya sendiri’. Ini yang saya lakukan terhadap ban belakang motor berwarna merah keluaran 2012 itu. Selama 8 bulan terakhir, saya tak pernah mengalami insiden ban bocor.

Hingga akhirnya hari itu datang.

Jarang-jarang ban kena paku sampai bocor. Sekalinya bocor, sepaket sama pentilnya patah.

Jadi, apa pelajaran hidup dari kejadian ini? Tidak ada. 

Note:
Jalanan Jakarta yang cukup banyak terdapat ‘ranjau paku’ ini ada di sekitar Jl. KH. Hasyim Ashari atau sepanjang jalan ITC Roxi Mas sampai Jl. Gajah Mada atau Harmoni.