Salahkan Pohon di Jalan

Saya belajar mengendarai sepeda motor ketika awal-awal masuk SMP. Kala itu, sepeda motor milik adiknya ibu dibawa pulang kampung. Saya pun langsung mengiyakan ketika ditawari untuk berlatih mengendarai sepeda motor plat B keluaran 1996 itu.

Hayo, mungkin motor ini sekarang seumuran atau bahkan lebih tua dari kamu..

Diawali briefing ringan seputar SOP mengendarai sepeda motor, saya pun bersiap-siap menunggangi kuda besi (lebih tepatnya kuda plastik kali ya? Hehe) tersebut.

Kunci kontak dinyalakan
Throttle gas sedikit dibuka
Kaki bersiap mengengkol kick starter
Pandangan ganteng ke depan

Brrmm.. brmmm..

Mesin pun meraung bak si raja hutan kucing kampung.

Tapi, belum sampai sepekan berlatih, saya harus menerima kenyataan pahit karena motor tersebut dibawa balik ke Jakarta. Agenda keliling dunia menggunakan roda dua pun terpaksa saya coret dari daftar rekor tahunan yang ingin saya pecahkan pada waktu itu, hehe.

Dua tahun kemudian, orang tua membelikan saya satu unit sepeda motor. Sepeda motor bebek yang katanya dibeli dari tempat jual beli sepeda motor bekas ini masih ada lho sampai sekarang. Oya, motor ini saya sebut dengan sebutan Kevin. Walau pun bekas, Si Kevin ini nyatanya masih cukup enak dikendarai; tarikan enteng, manuver gesit, pajak 200 ribu.

Foto hanya pemanis via bestpokemotorcycles.co.uk

Dengan motor ini (bukan yang di foto), bisa dibilang saya benar-benar 'bisa' mengendarai sepeda motor. Berbagai teknik berkendara mahir saya kuasai, seperti cara menarik gas, pindah gigi, sampai menyalakan lampu sein.

Belum genap dua hari, dengan mantab, saya memberi predikat sepeda motor favorit kepada Kevin. Karena Kevin juga, akhirnya saya bisa membeli SIM C.

Beberapa tahun kemudian, saya pindah ke Jakarta. Pindah, karena kalau disebut merantau rasanya kurang tepat, orang tua saya sudah menetap di sini.

Si Kevin pun turut serta.

Di Jakarta, saya agak kesulitan beradaptasi di jalan raya karena perilaku para pemotor yang sungguh ajaib. Tidak peduli salah atau benar, yang penting galak aja dulu. Pokoknya tipe orang yang apabila nabrak pohon, justru pohonnya yang disalahkan.

"Ah, mungkin ini hanya shock culture," saya masih saja mencoba untuk berpositif thinking.

Ternyata sampai sekarang...



KELAKUAN MEREKA SAMA AJA! BAHKAN KADANG SAYA IKUT-IKUTAN SEPERTI MEREKA! SALAH SIAPA?

POHON DI JALAN?

8 komentar

Ah, masih tuaan gue, ya! Gue kelahiran 1995. Bokap gue sempet punya deh motor itu. Meski sekarang udah dijual. Hahaha.

((MEMBELI SIM C))

Motor itu seumuran adekku berarti, Nggo. Dan tolong ya, di sini banyak diksi yang dibacanya jadi menyebalkan. Renggo masih aja deh tengil. Hih.

ahaa, kirain motor yang digambar itu motor mas. ternyata pemanis ui :D

Sepertinya saya tahu cita-cita atau rekor apa yg saat ini mau kamu pecahkan Nggo.

Rekor Bisa Menjadi Bang Haris yg postingannya otomotif ala2 tokopedia. nice.

Mungkin karena sering ditabrak itulah, kemaren para pohon saat diwawancara, pohon2 tersebut lebih senang tinggal di Meikarta. (cari aja beritanya)

Kalah tua sama motor dong? Harusnya cium jok nih kalau ketemu. :(

Wahh, terakhir aku main ke blog ini isinya postingan tntang rumah mulu loh. Tryata sudah tidak. Asyekk.
Ahiyak, tuaan mtornya staun. Salim ah kalo ktmu motornya.
Baru ngeh kata "Membeli" Sim C. Ku juga sudah beli dongg... Wkwk.
Di jekardah mmg trbawa suasana kalau berkendara. Kesian pohon klo disalahin mulu yah. Ntr dia nebang diri sndiri gmn? :(

siap2 dalam beberapa tahun kedepan. pohon juga bakal galak duluan.. karena himpitan hidup di Jakarta

mantap mas.. lanjutkan karyanya..
kunjungi juga blog saya. mari berteman..
http://www.bukanpenulisterkenal.com/

Pilih 'Anonymous' atau 'Name/URL' di 'Comment as' jika profil untuk berkomentar tidak ada. Terima kasih telah meninggalkan komentar.
EmoticonEmoticon